Jun 1, 2006
DESAKU YANG KUCINTAI....

Hari Senin pagi, 29 Mei

Jati, adikku yang berusia 11 tahun sibuk mencari topi dan dasi merah putihnya. Setelah bercermin di depan almari yang sudah somplak, dia bergegas menaiki sepeda mininya. Membawa dua ransel yang di sandang di dada dan punggungnya. Ia akan ke sekolah walau sudah dilarang oleh ibukku. "Gak boleh ga masuk, ini kan udah mau tes," katanya semangat. Namun, sesampainya di depan sekolah, dia hanya melongo. "Lho Mbak, kok temanku enggak ada...lho kok sekolahku sudah enggak ada" katanya memelas. Dia menyetandarkan sepedanya, melompati reruntuhan bangunan sekolahnya yang sudah menjadi puing akibat gempa yang menerpa di Klaten, Sabtu lalu.

Dengan enggan, sesekali masih menoleh ke gedung sekolahnya, ia mengayuh sepeda kuningnya pulang. Masih dengan dua ransel yang disandang di depan dan belakang. Walau kerepotan, ia tak mau tasnya aku bawakan. Ternyata, tas depan berisi buku tulis dan alat-alat tulis. Ransel belakang berisi satu stel baju, pakaian dalam, satu kotak biskuit, air minum dan payung. Ransel ini hampir tak pernah lepas dari tubuh, bahkan tidur sekalipun. "karena gempa datang lagi..." katanya.

Begitulah, ini hanya potret keluargaku yang alhamdulilah tidak ada yang cedera. walau rumah orang tuaku luluh lantah, seperti hampir 70% rumah di desaku. Jiwo Kulon, kec Wedi , kab Klaten. namun, trauma yang diderita menjadi siksaan yang belum berhenti hingga hari ini. Warga masih tidur di luar, tanpa atap. bantuan sangat minim, karena tidak ada media yang datang untuk meliput di desa kami. bantuan banyak terkonsentrasi ke Yogyakarta, atau daerah-daerah yang gampang dilihat.

Di tengah penderitaan itu, masih ada juga 'hewan-hewan' brengsek yang memanfaatkan kesempatan. Suatu malam, tiba2 ada yang teriak kalau air sudah nyampe di kota kecamatan. begitu warga panik, rumah yang sudah hancur lebur itu dijarah. Di sepanjang jalan, banyak sekali yang menyodorkan kotak bantuan, yang enggak jelas untuk siapa. Bahkan ada yang menimbun barang bantuan untuk dirinya sendiri, sementara yang lain kelaparan.

Bersama 5 orang temanku SMA, aku coba mendata pusat2 warga terkumpul. Di tetangga desaku, Bicak, Gumul, brangkal, Pesu, karbolo...semua di kecamatan wedi, yang semua, hingga hari ini masih tidur tanpa atap. Kami coba kontak ke posko-posko di jogyakarta. Namun begitu didrop, tidak pernah sampai ke lokasi. Sudah dijarah di tengah jalan.

kami coba membawa dengan sepeda motor, karena desa yang kami datangi memang enggak bisa dimasuki mobil. Jogja - klaten bolak balik entah sudah berapa kali. Namun, semua itu seperti menggarami laut. Hanya 3 sepeda motor, tak seberapa barang yang bisa kami bawa. Sementara yang lapar banyak sekali. malam ke3, aku sudah pada tahap menyerah. hanya bisa menangis di tempat.

Aku harus balik ke jakarta, karena enggak mungkin aku meninggalkan kantor lebih lama lagi. Majalah bisa tidak terbit, karena satu teman ibunya meninggal, satu teman lagi sudah sakit. "Masak kamu tega meninggalkan desa dalam kondisi kayak gini," itu kata sahabatku. Aku nyaris saja tak berangkat. tetapi kembali ke Jakarta kukira ada manfaatnya. Aku bisa mengontak beberapa posko media di Jakarta. wa;lau aku tak bisa menjajikan banyak.

Tadi pagi, sahabatku tadi menelpon, akhirnya menyerah juga. Ia balik ke Cilacap ke tempat kerjanya. katanya, sudah tidak kuat lagi melihat usaha kami yang sia-sia. Tinggal adikku yang sebenarnya dokter hewan, tetapi harus merawat manusia yang terluka.

sesampai di jakarta, begitu terkejutnya aku. ternyata bantuan banyak sekali, datang dari mana-mana. semalam di Metro tv, menteri kesehatan 'berantem' dengan PDIP masalah sistribusi. Tak terasa air mataku meleleh, kenapa harus seperti itu ? (aku menulis ini mataku meras panas)

Perlu diketahui, yang terjadi di lapangan , banyak orang yang memanfaatkan kesempatan.

- Bendera parta berkibar di daerah-daerah yang strategis. bendera LSM tak kalah megahnya. Namun di daerah yang tak 'potensi' terlewat begitu saja. Ketika aku datang ke lokasi tetangga desa, warga menanyakan, "Mbak dari partai apa ?" Bingung juga aku njawabnya, aku saja golput. Aku jawab saja "dari manusia yang jyga menghuni bumi"

- negeri yang lapar, negeri yang buas. Masyarakat yang pengangguran, para pak ogah cepek yang biasanya menjaga perempatan, kini 'menjaga' posko bantuan.

Tuhan, kumohon..sadarkan mereka yang belum sadar. Sak begja-begjane wong lali, isih begja wong eling lan waspada.

 


Posted at 10:44 am by Tean
Make a comment  

May 2, 2006
NAIK GUNUNG GEDE....

Aku naik gunung lagi !!!

waduh, sesuatu yang enggak terbayang. Waktu tas carier tersandang di punggung, terus mencium bau hutan....serasa aku masih sekolah, belum nikah dan masih teramat muda hehehe

Sungguh, ini naik gunung terkaya dalam catatan sejarah ! Aku beli peralatan baru tanpa banyak mikir. Dulu, untuk ongkos jalan saja aku mesti nabung berbulan-bulan, nunggu cerpenku dimuat di majalah. Kemarin, aku bisa beli raincoat baru, sepatu tracking, misting, kompor parafin dan banyak peralatan gunung. Gunung Jawa Barat dulu adalah gunung mahal, karena perjalanan lebih jauh, Solo- Jabar. Kini malah lebih dekat. Thanks God.

Hanya saja, Gunung Gede yang tingginya 'hanya' 2940-an, tidak sebanding dengan Mahameru (3676 m dpl), yang katanya mudah, eh ternyata dahsyat ! Seumur-umur, aku naik terlama...12 jam baru nyampai puncak. Turunnya juga dahsyat, lewat gunung Putri yang katanya hanya 3 jam, ternyata benar...3 jam lebih 6 jam hehehehe. dari Suryakencana jam 6 sore, sampai di 0.0 km jam 2.45 pagi. Wuah

Jalanan turun kurasakan teramat berat. Aku menghitung detik demi detik berlalu. Menghitung angka-angka hektometer yang terpancang di patok. Mulai dari 70 HM (yang artinya 7 KM), 42 HM, hingga 0,5 HM, aku mulai semangat. Tetapi akhirnya lunglai ketika sampai di 0,0 HM, yang kuharap adalah peradaban dan jalan raya, ternyata adalah shelter terakhir yang letaknya masih 1 km dari jalan raya !

Ini pertama kalinya aku naik gunung di Jawa barat. Ternyata, jalannya berbatu. kalau dulu2 aku naik gunung, biasanya yang sakit lutut..kini sakitnya pundak, lutut kaki. Mungkin karena sudah lama enggak jalan. Padahal dulu sudah 'berikrar', akan gantung sepatu sejak tahun 2000, ketika tembus Mahameru. Eh, ternyata hobi satu ini seperti virus. Tak pernah mati, hanya dorman di dalam tubuh. ketika ada kesempatan, viruspun menyerang.

Alhamdulilah, sampai detik ini, suami, tak keberatan. Pas aku cerita dengan hati2, ada sepatu tracking bagus dan lagi diskon, dari 400 ribu jadi 150 ribu, Mas dengan enteng menjawab : beli aja lagi. Kan buat ke kantor ! Wah, kalau gitu, program menjadi feminim dan cantik enggak berhasil dong. Halah, enggak apa-apa. Jadilah kamu apa adanya. Kembali aku sujud syukur. Terima kasih telah memberi kesempatan padaku. Dan semoga terus begitu hehehehehe

 


Posted at 07:29 pm by Tean
Comment (1)  

Apr 6, 2006
konservasi...konservasi

Menjelang tengah malam, di salah satu Kepulauan Seribu...

"Frank, kamu sudah lama di Indonesia. Berurusan segala tetek bengek konservasi...pernah enggak kamu merasa bosan, jenuh atau malah pustus asa ?" tanyaku pada Frank Momberg, salah satu direktur NGO. Dia diam, lantas melihatku. Mungkin enggak ngira aku bakal nanyain gitu.

"Terus terang aja pernah. Tapi yah...sekejap. Tapi itu cepat hilang kalau sudah jalan-jalan. Tapi sekarang sudah susah menemukan tempat jalan-jalan yang asyik," katanya. Tentu saja tempat jalan-jalan bagi dia bukanlah mall atau tempat artifisial lainnya.

Melihat burung di pulau itu adalah tujuanku meninggalkan kantor dan deadline (heheheh). Untuk pertama kalinya, setelah mendengar birdwatching lama, dan dulu aku sama  sekali tidak tertarik (abis, birwatchingnya di depan rektorat..ketemunya cuman burung gereja doang. Kayak gitu ngapain pake binokuler segala ?!). Tadi siang, aku melihat sesuatu yang baru.

Burung laut, aneka macam (tentu saja aku enggak bisa nyebutin ehhehe). Burung pun ada yang jahat, kerjaannya ngerampok makanan dari burung yang kerja nyari makan seharian. Namanya kalo enggak salah burung angin, abis terbangnya males bgt, cuman ngikutin angin doang. terus ada burung yang gembul, kerjaannya makan. Warnanya item, ahlinya ngasih tau kalo namanya pecuk. Ada lagi burung iseng, namanya rada centil : Trinil. Dia suka menjukat njungkitkan pantat...

Tak seberapa jauh dari pulau itu, ada salah seorang penduduk yang diberi hadiah kalpataru. Tentu saja, 'obyek' macam ini jadi sasaran empuk rekan2 wartawan. Tiba2 bapak yang sehari-harinya ngobrol sama bakau, tiba-tiba dicecar pertanyaan dari wartawan. waduh, kerepotan sekali menjawabnya. Yang biasanya hanya diterangi petir, tiba2 slap...slep...kamera menyambar.

Pertanyaan tentu saja seputar : kenapa bapak menjaga habitat burung (nah..habitat ..makanan apaan ?!), apasaja permasalah lingkungan yang dihadapi, bagaimana menurut bapak konservasi yang bagus (waduh...tiba2 jadi pembuat kebijakan deh)...apa peran pemerintah dalam hal ini, pasti jauh dari keinginan (wuahhhh..pertanyaan nyinyir seputar peemrintah berlanjut...)

Suasana alami yang sempat kurasakan, mendadak jadi ajang kata-kata muluk yang membuat peraih kalapataru, yang sama sekali tak tahu apa itu kalapataru, menjadi mesin penjawab. Tiba-tiba, tanpa sadar..aku telah merusak 'kelestarian' yang ada di sana. kelestarian sebuah itikad untuk melakukan sesuatu yang tanpa pamrih, tanpa keinginan mendapatkan penghargaan, tanpa ingin publikasi....

"saya sudah lama tinggal di pulau itu karena menjadi tenaga honorer di kehutanan, tenaga honorer yang puluhan tahun...mungkin sampai pensiun tetap honorer. Karena setiap hari di sana, pulau itu seoralah jadi tempat tinggal saya, jadi kalau burung-burung atau tanaman mati...ya seperti hewan piaraan di rumah mati..."

semoga akan tetap seperti itu, kukira..rasa memiliki yang enggak dibuat2 itulah yang akan mengabadikan KONSERVASI


Posted at 09:17 pm by Tean
Make a comment  

Mar 29, 2006
SOULMATE.COM

Tadi siang aku menghadiri bedah buku (aku tuh penggemar acara bedah buku. kapan bukuku di hihi). SOULMATE.COM. Bukunya metropop tulisan Jessica huwae (selamat Mbak!). Pas aku buka awalnya, terus akhirnya....tiba-tiba aku berkeringat, jantungku berdebar lebih ceoat. HUaaaaaaaa...kenapa ceritanya mirip dengan yang sedang aku bikin  (atau aku yang mirip dia ?!). Cewek..dengan segala perjalanannya, jatuh cinta dengan cowok menikah...via internet lagi ! Ini aku membaca sekilas, bisa jadi salah. tetapi huhuhu...

Rasanya bercampur aduk. Walaupun mungkin hanya mirip inti cerita, tapi jelas bahasa dan setting dan lain-lain beda. Yang jelas..nasib jelas beda...punya Mbak Jessica dah terbit duluan....Jadi kecimpulannya...kalau aku masih molor mulu dengan 'project' itu..ya selamat jika ditulis orang lain. Huhuhu

Diskusi dilanjutkan, tentang Soulmate. Apa coba ?

Menyebut kata itu, aku jadi ingat malam pernikahanku. (jadi pengumuman, saya sudah menikah...biarlah status di web ini tetap single...karena kenyataanya sama masih sendiri di JKT ini hehe). Seseorang, yang namanya sudah tidak asing lagi bagiku selama 10 tahun terakhir ini, datang bersama 2 sahabatku yang sahabatnya juga.

Seseorang, pada dialah aku merasakan jatuh bangun yang gak masuk akal, kebodohan tingakt akut, dan kegilaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata serta kenekadan yang berani (untuk tidak mengatakan menjijikkan). Tiba-tiba, aku jadi semacam terdakwa di sana. Dikelilingi sohib2 itu, salah satu teman membuka percakapan :

"Te, jadi sebenarnya kedatangan kami kemari..jelas memberikan selamat. Akhirnya ada lelaki yang kena 'kutukan' yang akhirnya mau menikahimu (hehehehe). Tetapi ada tujuan yang lebih penting...aku, atau tepatnya kami...membuat sebuah cerpen. ternyata cerpen itu selama sebelas tahun ini tak pernah terseleseikan. Dan kami sepakat meyakini, penyeleseiannya itu di kamu..." katanya dengan gaya pujanggais, padahal keseharian jauh dari sebutan sastrawan.

"Jadi intinya begini : siapa di antara mereka bertiga itu (dia menunjuk 'seseorang' dan 2 sahabatnya yang juga sahabatku) yang kamu pilih waktu itu, tepatnya sebelas tahun silam ?" Gubrak ! Aku melongo, tercekat dan tentu saja kaget. Jadi selama ini....

yang kupikir aku jatuh cinta dengannya, hanyalah monolog, tetapi ternyata tidak. Kendati tidak bersambut, paling tidak aku tidak bicara sendirian. Mereka, atau tepatnya dirinya, juga mengobrolkanku. Mereka, tepatnya dirinya...juga memperhitungkan aku.

Kini aku tahu, kenapa dia menelponku tengah malam menjelang malam pertunangannya, hanya untuk menanyakan, harga kamera digital itu berapa. kenapa itu masih selalu menanyakan keadaanku, masih 'menghinaku' kendati sudah punya istri.

Barangkali aku tahu makna dari kata-katanya, 5 atau 10 tahun silam 'Kalau ada urutan sahabat, kamu ada di barisan terdepan' kala itu aku hanya nyengir pahit. Aku ga pengin jadi sahabatmu, walaupun kau taruh di urutan terdepan sekalipun. Aku mau jadi kekasihmu. jadi belahan hatimu....

Hahahaha...solumate. Apakah itu ?

Sampai malam menjelang pagi. Sampai mereka berpamitan pulang. Aku tetap tak menjawab secara tersurat, tentangmemilih siapa waktu itu. Bukankah jawababnnya sudah teramat jelas, seperti jerawat yang nongkrong di jidat. Kemana kalian tatkala aku sendirian ? Bagaimana perasaaan kalian manakala aku menyaksikan satu per satu dari kalian bertunangan ?

Tak ada jawabannya. Bahkan semalaman, menjelang pernikahan pada pukul 8 pagi, 5 Maret silam...aku tak bisa memejamkan mata hinggadzan subuh. Pagi pas ijab qobul, ngantukku tiada tara....

 

 


Posted at 07:04 pm by Tean
Make a comment  

Mar 23, 2006
SANG MAESTRO

Ribuan, ratusan ribu pasang mata

Tertuju pada satu arah

Diriku...

Wajah-wajah itu

Menanti...berharap...memuja...takjub

Akan sebuah nada yang keluar dari gerak jemariku

Nada-nada akbar yang menandai kehadiranku

Ribuan, ratusan ribu pasang mata

Masih tertuju pada satu arah

Masih..diriku

Wajah-wajah itu

Mulai jengah...beringsut...belas kasihan

Tatkala menatap jemari ini

Tak ada nada akbar...hanya tulang-tulang yang berkeriyut

Kulit keriput, otot-otot kaku tak merdu

bergeraklah...bermainlah..berikan nada-nada itu

Namun nyeri nyeri semakin menjadi

Aku bukan maestro lagi...

 

Renungan dari pagelaran Saru Rasa -Mustofa Bisri - Idris Sardi, GKJ, 23 Maret 2006

Aku Masih Sangat Hafal Nyanyian Itu

Oleh: A. Mustofa Bisri

Aku masih sangat hafal nyanyian itu
Nyanyian kesayangan dan hafalan kita bersama
Sejak kita di sekolah rakyat
Kita berebut lebih dulu menyanyikannya
Ketika anak-anak disuruh
Menyanyi di depan klas satu-persatu
Aku masih ingat betapa kita gembira
Saat guru kita mengajak menyanyikan lagu itu
bersama-sama

Sudah lama sekali
Pergaulan sudah tidak seakrab dulu
Masing-masing sudah terseret kepentingannya sendiri
Atau tersihir pesona dunia
Dan kau kini entah dimana
Tapi aku masih sangat hafal nyanyian itu, sayang
Hari ini ingin sekali aku menyanyikannya kembali
Bersamamu

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Selalu dipuja-puja bangsa
Disana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata


Aku merindukan rasa haru dan iba
Di tengah kobaran kebencian dan dendam
Serta maraknya rasa tega
Hingga kini ada saja yang mengubah lirik lagu
Kesayangan kita itu
Dan menyanyikannya dengan nada sendu

Indonesia tanah air kita
Bahagia menjadi nestapa
Indonesia kini tiba-tiba
Selalu dihina-hina bangsa
Disana banyak orang lupa
Dibuai kepentingan dunia
Tempat bertarung merebut kuasa
Sampai entah kapan akhirnya


Sayang, dimanakah kini kau
Mungkinkah kita bisa menyanyi bersama lagi
Lagu kesayangan kita itu
Dengan akrab seperti dulu

Puisi ini sempat membuatku menangis..eh seperti cengeng...tetapi bukankah sudah lama kita tak mendengar nyanyian lagu-lagu yang membangkitkan rasa cinta kepada negeri ini. Lagu heroik yang kita nyanyikan tatkala masih mengenakan seragam merah putih, dengan teriakan lantang tak peduli nada sumbang, berdiri menghormat tiang bendera, seolah kita pahlawan yang membawa bambu runcing ! Ah, semoga negeri ini masih layak dicintai...


Posted at 04:53 pm by Tean
Comment (1)  

Feb 15, 2006
KABAR TENTANG PERNIKAHAN...

Suatu malam, saat aku masih berkutat dengan naskah-naskah, HPku berteriak. "Waduh, rasanya aku ga bisa tidur...besok...besok aku harus mengubah status" ada suara panik di seberang sana. Dadaku berdetak tak wajar, ketambahan rasa perih yang tak terdefinisi. "Kenapa ? Bukankah itu membahagiakan ?" jawabku sok bijak. Tapi sumpah...itu tidak tulus. Semenjak telepon berhenti, otakkupun berhenti tak bisa menulis lagi. seperti halnya dia (mungkin), aku tak bisa tidur sampe pagi. Dia tunangan...

Esok harinya, pikiranku serasa tak bersarang di tubuh. Kuamati jarum jam, kuperkirakan juga peristiwa jauh di seberang sana...kini kamu sudah bangun...jam segini kamu pasti mandi...jam segini kamu pasti sudah di hadapan sanak saudara...jam segini...pasti kau sudah sematkan cincin pertunangan...seharusnya aku yang memakainya...kenapa bukan aku...kenapa aku harus ah ingin menangis...sudah menangis..SIALAN !!!!!

Di hadapanku kamu menunduk. Mengabarkan tentang pernikahanmu. "Huahahaha..akhirnya, sampai juga perjalananmu," tawaku. Tapi sungguh, aku mau pingsan rasanya. Itulah jawaban-Nya..suka atau tidak suka, dia akan menjadi milik orang lain. Seperti fajar dinikahi langit pagi. Aku hanya boleh memandang kemegahannya, tanpa bisa meraih..apalagi memiliki. Tak apalah....memang itu seharusnya. Dengan dagu tercuat, sok gagah..aku datang ke pernikahannya dengan dandanan yang sistematis. Kusadari aku memang bisa tampil beda (untuk tidak mengatakn lebih cantik hehehe). Ayah ibunya sampai tak menyangka..itu aku.

Kini, tahun berselang...akupun punya kisah sendiri. Aku yang menjadi dirinya.

Kukabarkan berita pernikahan. Yang menikah adalah diriku. Dengan kepala menunduk, aku berujar lirih " Insyaallah tanggal 5 maret, kamu datang ya..." Aku tak berani menatap matanya. Mata tulus seorang lelaki, sederhana, yang telah lama memproklamirkan diri sebagai sahabatku, yang selalu ada saat aku butuh, yang selalu menemaniku kala aku jatuh, yang selalu memendam rasa tanpa bisa berkata, bahwa cinta tak harus diucap dengan kata. tapi ternyata aku tak peka. Ah....semoga aku tidak GR, kalau ada yang patah hati dengan kabar ini. Maafkan aku...

Berita pernikahan...ada kebahagiaan, ada harapan, ada dheg dhegan, ada keindahan, ada...sesuatu yang tak terlukiskan. Wangi kembang melati, membuai jiwa-jiwa yang mengikat janji..kuharap mampu juga menghibur yang patah hati. Jika kemarin aku yang patah hati, kini kau yang menjalani. Entah..kenapa mesti ada seperti ini...

Percayalah, yang kau sayangi takkan pernah benar-benar pergi. Dia selalu ada di sini....(kata Sirius Black sambil meletakkan tangannya di dada Harry Potter, tepat di ulu hati - adegan paling romantis dalam Film Harry Potter and The Prisioner of Azkaban)

 

 


Posted at 07:57 pm by Tean
Make a comment  

Feb 9, 2006
DIMANAKAH BAHAGIA BERADA...

Sore tadi aku diundang nongkrong di sebuah restorasn siap saji oleh pecinta kucing. Kami ngobrol ke sana kemari. Tak lupa cerita tentang peliharaan mereka. Ada salah seorang cat lover, begitu kami menyebut pecinta kucing, ngomongin tentang kucing domestik (sama artinya dengan 'kampung').

Jika Anda baru datang, tak tahu awalnya, pasti Anda bakal mengira kalau yang diceritakan itu anaknya. Coba simak ;

'Si Manis itu..aduh, dia itu sok kalau di rumah. PAs dibawa ke lomba, diem aja. Ketakutan. Udah disamperin temennya, di Leo tapi tetep aja takut. Badannya gemetar, demam..aduh panik aku. Sampai di rumah..ga sampai 5 menit...udah biasa lagi. jalan-jalan dan main sama Lilo.

Tiap hari mandi di wastafel, pakai air hangat. Aduh Manis....suka ngambek kalau ditinggal enggak bilang-bilang.." Mereka menceritakan dengan air muka bahagia, dengan bersemangat. Bahkan mungkin kalau aku tak keburu ke kantor lagi, pasti akan sampai tengah malam...

Begitulah. Aku simak, aku larut dalam obrolan mereka. Aku mencoba memahami. sungguh, jika dengan pemahaman umum, Anda pasti akan menanyakan, buat apa, kucing saja ??? Bahkan ada yang merelakan hidupnya, tidak menikah, tidak punya anak, hanya untuk kucing. apakah sudah tak waras ? Apa yang bisa dilakukan kucing untuk kita ? Bayangkan...daripada mengadopsi kucing, kenapa tidak anak angkat saja? Jadi kalau hari tua...apakah kucing yang akan merawat ? masih mending manusia kan ?

Sungguh pertanyaan itu tak bisa dijawab dengan kaca mata umum. Aku hanya bisa bertanya-tanya dalam hati...DIMANAKAH BAHAGIA BERTATAHTA ?

Nb. ini mau posting foto ga bisa mulu...

 


Posted at 08:00 pm by Tean
Make a comment  

Feb 3, 2006
TAK PERLU JUDUL

Aku tak mau menulis lagi,

Ketika huruf-huruf sudah tak lagi bermakna

Kata-kata hanya sebatas gelombang suara

Menambah bising kota dan tak mengubah apa-apa

 

Aku tak mau membaca lagi,

Semua menjejalkan teori

Slogan-slogan langit yang tak teraih

Mimpi-mimpi tak berguna

 

Aku tak mau bicara lagi

Buat apa ?

Aku teriak, aku memohon, aku memaki

Toh semuanya tetap berjalan sebagaimana awal

 

Yang aku mau kini hanyalah

Menatap matamu yang memijarkan keyakinan

Bahwasannya kau harus berjalan hingga langkah terakhir

Aku kagum, sahabat....

 

Untuk kau, yang entah dimana

semoga kau masih selalu yakin

Jauh di seberang perbatasan

Ada sahabat yang akan selalu tersenyum untukmu


Posted at 02:16 pm by Tean
Make a comment  

Dec 9, 2005
Papua in frame

Bocah itu begitu ceria...

Posted at 08:20 pm by Tean
Comments (3)  

PAPUA....PAPUA....

Hallo kawan-kawan yang tak kasad mata tapi aku yakin ada....

Lama sekali aku tak berkunjung ke persinggahan ini. Begitulah kalau penyakit kambuhannya kumat. Tidak kreatip, tidak peka lingkungan dan tidak ingin melakukan apa-apa. Bahkan tidurpun tak ingin. Udah deh...pokonya seperti bunga krisan kering yang udah jelek...keinjek-injek..lalatpun males melirik

Sampai tapi malam...sayup-sayup aku dengar tentang 55 warga Papua yang meninggal karena kelaparan. Tiba-tiba aku terbangun...lalu teringat kenangan Juli lalu.

Waktu itu aku dapat tugas ke Biak. Karena pesawat Hercules ada yang jatuh, jadi perjalanan yang hanya 4 hari jadi 9 hari di Papua.

Aku, beserta rombongan dari Jakarta lainnya, disambut di hotel termegah di Biak. Para pejabat menyambut kami dengan teramat meriah (saya berterima kasih). Namun, di tengah semaraknya pesta...aku merasa sepi. Acara yang dihadiri banyak petani dari penjuru negeri, banyak pejabat tinggi, bahkan menteri pundatang..tak dimanfaatkan untuk membahas hal-hal yang bermanfaat. Selain pesta-pesta dan ceremonial...

Bahkan aku sempat nelangsa...suatu malam, petani anggrek ngumpul di hotel untuk jamuan makan malam. sampai jam 9 malam pak menteri tidak datang-datang, sementara makan malam harus menunggu menteri. Waktu perut sudah tak bisa bunyi lagi, menteri datang dari mancing...lalu pergi lagi, katanya lelah dan butuh istirahat.

Aduh....berapa sering sih pejabat datang ke Papua. Kenapa moment itu tak digunakan untuk membahas kemajuan petani, atau setidaknya menampung uneg-uneg warga yang sudah seabreg....

Suatu siang, di kala ada jamuan makan siang. Aku sudah sedih sekali. Aku memilih makan di salah satu warung pinggiran (yang ternyata masakan Surabaya. Aduh...jauh-jauh ke Irian kok ketemunya masakan Surabaya plus gorengan Klaten !).

Entah karena saking semangatnya ketemu dengan 'tentangga', ibu itu memberi porsi yang luar biasa. Makanya, walau sudah keringetan..tetap saja nasi itu tak habis. Lalu, piring nasi itu aku kasih ke ibu tukang cuci piring. Sisa nasi itu tidak dibuang, melainkan dirapikan. dengan bahagia..ibu itu memberikannya ke cuplis cili...yang ternyata anaknya. Dengan lahap, bocah legam itu menyendok nasi.

Kupalingkan wajah..dan aku menangis !!! Jadiii...di kala aku susah payah menjejalkan nasi ke perutku yang kepenuhan, sepasang mata mengamatiku dengan menahan lapar.

Dan tak jaub dari tempat itu,......banyak nasi dan makanan enak menggunung untuk perut yang sudah gendut.

Ketika aku mendengar ada 55 orang meninggal karena kelaparan...tak seharusnya aku heran.


Posted at 08:04 pm by Tean
Make a comment  

Next Page


  • Tean
  • 27th
  • Perempuan
  • Mencoba menjadi journalist
  • Suka melihat matahari terbit
  • Suka baca Kahlil Gibran dan Seno Gumira
  • Suka denger Richard Marx, Bryan Adam
  • Suka film-nya Shah Rukh Khan
  • Single


  •    

    << January 2012 >>
    Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
    01 02 03 04 05 06 07
    08 09 10 11 12 13 14
    15 16 17 18 19 20 21
    22 23 24 25 26 27 28
    29 30 31






    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed