 |
 |
 |
|
Jun 1, 2006
Hari Senin pagi, 29 Mei
Jati, adikku yang berusia 11 tahun sibuk mencari topi dan dasi merah putihnya. Setelah bercermin di depan almari yang sudah somplak, dia bergegas menaiki sepeda mininya. Membawa dua ransel yang di sandang di dada dan punggungnya. Ia akan ke sekolah walau sudah dilarang oleh ibukku. "Gak boleh ga masuk, ini kan udah mau tes," katanya semangat. Namun, sesampainya di depan sekolah, dia hanya melongo. "Lho Mbak, kok temanku enggak ada...lho kok sekolahku sudah enggak ada" katanya memelas. Dia menyetandarkan sepedanya, melompati reruntuhan bangunan sekolahnya yang sudah menjadi puing akibat gempa yang menerpa di Klaten, Sabtu lalu.
Dengan enggan, sesekali masih menoleh ke gedung sekolahnya, ia mengayuh sepeda kuningnya pulang. Masih dengan dua ransel yang disandang di depan dan belakang. Walau kerepotan, ia tak mau tasnya aku bawakan. Ternyata, tas depan berisi buku tulis dan alat-alat tulis. Ransel belakang berisi satu stel baju, pakaian dalam, satu kotak biskuit, air minum dan payung. Ransel ini hampir tak pernah lepas dari tubuh, bahkan tidur sekalipun. "karena gempa datang lagi..." katanya.
Begitulah, ini hanya potret keluargaku yang alhamdulilah tidak ada yang cedera. walau rumah orang tuaku luluh lantah, seperti hampir 70% rumah di desaku. Jiwo Kulon, kec Wedi , kab Klaten. namun, trauma yang diderita menjadi siksaan yang belum berhenti hingga hari ini. Warga masih tidur di luar, tanpa atap. bantuan sangat minim, karena tidak ada media yang datang untuk meliput di desa kami. bantuan banyak terkonsentrasi ke Yogyakarta, atau daerah-daerah yang gampang dilihat.
Di tengah penderitaan itu, masih ada juga 'hewan-hewan' brengsek yang memanfaatkan kesempatan. Suatu malam, tiba2 ada yang teriak kalau air sudah nyampe di kota kecamatan. begitu warga panik, rumah yang sudah hancur lebur itu dijarah. Di sepanjang jalan, banyak sekali yang menyodorkan kotak bantuan, yang enggak jelas untuk siapa. Bahkan ada yang menimbun barang bantuan untuk dirinya sendiri, sementara yang lain kelaparan.
Bersama 5 orang temanku SMA, aku coba mendata pusat2 warga terkumpul. Di tetangga desaku, Bicak, Gumul, brangkal, Pesu, karbolo...semua di kecamatan wedi, yang semua, hingga hari ini masih tidur tanpa atap. Kami coba kontak ke posko-posko di jogyakarta. Namun begitu didrop, tidak pernah sampai ke lokasi. Sudah dijarah di tengah jalan.
kami coba membawa dengan sepeda motor, karena desa yang kami datangi memang enggak bisa dimasuki mobil. Jogja - klaten bolak balik entah sudah berapa kali. Namun, semua itu seperti menggarami laut. Hanya 3 sepeda motor, tak seberapa barang yang bisa kami bawa. Sementara yang lapar banyak sekali. malam ke3, aku sudah pada tahap menyerah. hanya bisa menangis di tempat.
Aku harus balik ke jakarta, karena enggak mungkin aku meninggalkan kantor lebih lama lagi. Majalah bisa tidak terbit, karena satu teman ibunya meninggal, satu teman lagi sudah sakit. "Masak kamu tega meninggalkan desa dalam kondisi kayak gini," itu kata sahabatku. Aku nyaris saja tak berangkat. tetapi kembali ke Jakarta kukira ada manfaatnya. Aku bisa mengontak beberapa posko media di Jakarta. wa;lau aku tak bisa menjajikan banyak.
Tadi pagi, sahabatku tadi menelpon, akhirnya menyerah juga. Ia balik ke Cilacap ke tempat kerjanya. katanya, sudah tidak kuat lagi melihat usaha kami yang sia-sia. Tinggal adikku yang sebenarnya dokter hewan, tetapi harus merawat manusia yang terluka.
sesampai di jakarta, begitu terkejutnya aku. ternyata bantuan banyak sekali, datang dari mana-mana. semalam di Metro tv, menteri kesehatan 'berantem' dengan PDIP masalah sistribusi. Tak terasa air mataku meleleh, kenapa harus seperti itu ? (aku menulis ini mataku meras panas)
Perlu diketahui, yang terjadi di lapangan , banyak orang yang memanfaatkan kesempatan.
- Bendera parta berkibar di daerah-daerah yang strategis. bendera LSM tak kalah megahnya. Namun di daerah yang tak 'potensi' terlewat begitu saja. Ketika aku datang ke lokasi tetangga desa, warga menanyakan, "Mbak dari partai apa ?" Bingung juga aku njawabnya, aku saja golput. Aku jawab saja "dari manusia yang jyga menghuni bumi"
- negeri yang lapar, negeri yang buas. Masyarakat yang pengangguran, para pak ogah cepek yang biasanya menjaga perempatan, kini 'menjaga' posko bantuan.
Tuhan, kumohon..sadarkan mereka yang belum sadar. Sak begja-begjane wong lali, isih begja wong eling lan waspada.
Posted at 10:44 am by Tean
Permalink
May 2, 2006
Aku naik gunung lagi !!!
waduh, sesuatu yang enggak terbayang. Waktu tas carier tersandang di punggung, terus mencium bau hutan....serasa aku masih sekolah, belum nikah dan masih teramat muda hehehe
Sungguh, ini naik gunung terkaya dalam catatan sejarah ! Aku beli peralatan baru tanpa banyak mikir. Dulu, untuk ongkos jalan saja aku mesti nabung berbulan-bulan, nunggu cerpenku dimuat di majalah. Kemarin, aku bisa beli raincoat baru, sepatu tracking, misting, kompor parafin dan banyak peralatan gunung. Gunung Jawa Barat dulu adalah gunung mahal, karena perjalanan lebih jauh, Solo- Jabar. Kini malah lebih dekat. Thanks God.
Hanya saja, Gunung Gede yang tingginya 'hanya' 2940-an, tidak sebanding dengan Mahameru (3676 m dpl), yang katanya mudah, eh ternyata dahsyat ! Seumur-umur, aku naik terlama...12 jam baru nyampai puncak. Turunnya juga dahsyat, lewat gunung Putri yang katanya hanya 3 jam, ternyata benar...3 jam lebih 6 jam hehehehe. dari Suryakencana jam 6 sore, sampai di 0.0 km jam 2.45 pagi. Wuah
Jalanan turun kurasakan teramat berat. Aku menghitung detik demi detik berlalu. Menghitung angka-angka hektometer yang terpancang di patok. Mulai dari 70 HM (yang artinya 7 KM), 42 HM, hingga 0,5 HM, aku mulai semangat. Tetapi akhirnya lunglai ketika sampai di 0,0 HM, yang kuharap adalah peradaban dan jalan raya, ternyata adalah shelter terakhir yang letaknya masih 1 km dari jalan raya !
Ini pertama kalinya aku naik gunung di Jawa barat. Ternyata, jalannya berbatu. kalau dulu2 aku naik gunung, biasanya yang sakit lutut..kini sakitnya pundak, lutut kaki. Mungkin karena sudah lama enggak jalan. Padahal dulu sudah 'berikrar', akan gantung sepatu sejak tahun 2000, ketika tembus Mahameru. Eh, ternyata hobi satu ini seperti virus. Tak pernah mati, hanya dorman di dalam tubuh. ketika ada kesempatan, viruspun menyerang.
Alhamdulilah, sampai detik ini, suami, tak keberatan. Pas aku cerita dengan hati2, ada sepatu tracking bagus dan lagi diskon, dari 400 ribu jadi 150 ribu, Mas dengan enteng menjawab : beli aja lagi. Kan buat ke kantor ! Wah, kalau gitu, program menjadi feminim dan cantik enggak berhasil dong. Halah, enggak apa-apa. Jadilah kamu apa adanya. Kembali aku sujud syukur. Terima kasih telah memberi kesempatan padaku. Dan semoga terus begitu hehehehehe
Posted at 07:29 pm by Tean
Permalink
Apr 6, 2006
Menjelang tengah malam, di salah satu Kepulauan Seribu...
"Frank, kamu sudah lama di Indonesia. Berurusan segala tetek bengek konservasi...pernah enggak kamu merasa bosan, jenuh atau malah pustus asa ?" tanyaku pada Frank Momberg, salah satu direktur NGO. Dia diam, lantas melihatku. Mungkin enggak ngira aku bakal nanyain gitu.
"Terus terang aja pernah. Tapi yah...sekejap. Tapi itu cepat hilang kalau sudah jalan-jalan. Tapi sekarang sudah susah menemukan tempat jalan-jalan yang asyik," katanya. Tentu saja tempat jalan-jalan bagi dia bukanlah mall atau tempat artifisial lainnya.
Melihat burung di pulau itu adalah tujuanku meninggalkan kantor dan deadline (heheheh). Untuk pertama kalinya, setelah mendengar birdwatching lama, dan dulu aku sama sekali tidak tertarik (abis, birwatchingnya di depan rektorat..ketemunya cuman burung gereja doang. Kayak gitu ngapain pake binokuler segala ?!). Tadi siang, aku melihat sesuatu yang baru.
Burung laut, aneka macam (tentu saja aku enggak bisa nyebutin ehhehe). Burung pun ada yang jahat, kerjaannya ngerampok makanan dari burung yang kerja nyari makan seharian. Namanya kalo enggak salah burung angin, abis terbangnya males bgt, cuman ngikutin angin doang. terus ada burung yang gembul, kerjaannya makan. Warnanya item, ahlinya ngasih tau kalo namanya pecuk. Ada lagi burung iseng, namanya rada centil : Trinil. Dia suka menjukat njungkitkan pantat...
Tak seberapa jauh dari pulau itu, ada salah seorang penduduk yang diberi hadiah kalpataru. Tentu saja, 'obyek' macam ini jadi sasaran empuk rekan2 wartawan. Tiba2 bapak yang sehari-harinya ngobrol sama bakau, tiba-tiba dicecar pertanyaan dari wartawan. waduh, kerepotan sekali menjawabnya. Yang biasanya hanya diterangi petir, tiba2 slap...slep...kamera menyambar.
Pertanyaan tentu saja seputar : kenapa bapak menjaga habitat burung (nah..habitat ..makanan apaan ?!), apasaja permasalah lingkungan yang dihadapi, bagaimana menurut bapak konservasi yang bagus (waduh...tiba2 jadi pembuat kebijakan deh)...apa peran pemerintah dalam hal ini, pasti jauh dari keinginan (wuahhhh..pertanyaan nyinyir seputar peemrintah berlanjut...)
Suasana alami yang sempat kurasakan, mendadak jadi ajang kata-kata muluk yang membuat peraih kalapataru, yang sama sekali tak tahu apa itu kalapataru, menjadi mesin penjawab. Tiba-tiba, tanpa sadar..aku telah merusak 'kelestarian' yang ada di sana. kelestarian sebuah itikad untuk melakukan sesuatu yang tanpa pamrih, tanpa keinginan mendapatkan penghargaan, tanpa ingin publikasi....
"saya sudah lama tinggal di pulau itu karena menjadi tenaga honorer di kehutanan, tenaga honorer yang puluhan tahun...mungkin sampai pensiun tetap honorer. Karena setiap hari di sana, pulau itu seoralah jadi tempat tinggal saya, jadi kalau burung-burung atau tanaman mati...ya seperti hewan piaraan di rumah mati..."
semoga akan tetap seperti itu, kukira..rasa memiliki yang enggak dibuat2 itulah yang akan mengabadikan KONSERVASI
Posted at 09:17 pm by Tean
Permalink
Mar 29, 2006
Tadi siang aku menghadiri bedah buku (aku tuh penggemar acara bedah buku. kapan bukuku di hihi). SOULMATE.COM. Bukunya metropop tulisan Jessica huwae (selamat Mbak!). Pas aku buka awalnya, terus akhirnya....tiba-tiba aku berkeringat, jantungku berdebar lebih ceoat. HUaaaaaaaa...kenapa ceritanya mirip dengan yang sedang aku bikin (atau aku yang mirip dia ?!). Cewek..dengan segala perjalanannya, jatuh cinta dengan cowok menikah...via internet lagi ! Ini aku membaca sekilas, bisa jadi salah. tetapi huhuhu...
Rasanya bercampur aduk. Walaupun mungkin hanya mirip inti cerita, tapi jelas bahasa dan setting dan lain-lain beda. Yang jelas..nasib jelas beda...punya Mbak Jessica dah terbit duluan....Jadi kecimpulannya...kalau aku masih molor mulu dengan 'project' itu..ya selamat jika ditulis orang lain. Huhuhu
Diskusi dilanjutkan, tentang Soulmate. Apa coba ?
Menyebut kata itu, aku jadi ingat malam pernikahanku. (jadi pengumuman, saya sudah menikah...biarlah status di web ini tetap single...karena kenyataanya sama masih sendiri di JKT ini hehe). Seseorang, yang namanya sudah tidak asing lagi bagiku selama 10 tahun terakhir ini, datang bersama 2 sahabatku yang sahabatnya juga.
Seseorang, pada dialah aku merasakan jatuh bangun yang gak masuk akal, kebodohan tingakt akut, dan kegilaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata serta kenekadan yang berani (untuk tidak mengatakan menjijikkan). Tiba-tiba, aku jadi semacam terdakwa di sana. Dikelilingi sohib2 itu, salah satu teman membuka percakapan :
"Te, jadi sebenarnya kedatangan kami kemari..jelas memberikan selamat. Akhirnya ada lelaki yang kena 'kutukan' yang akhirnya mau menikahimu (hehehehe). Tetapi ada tujuan yang lebih penting...aku, atau tepatnya kami...membuat sebuah cerpen. ternyata cerpen itu selama sebelas tahun ini tak pernah terseleseikan. Dan kami sepakat meyakini, penyeleseiannya itu di kamu..." katanya dengan gaya pujanggais, padahal keseharian jauh dari sebutan sastrawan.
"Jadi intinya begini : siapa di antara mereka bertiga itu (dia menunjuk 'seseorang' dan 2 sahabatnya yang juga sahabatku) yang kamu pilih waktu itu, tepatnya sebelas tahun silam ?" Gubrak ! Aku melongo, tercekat dan tentu saja kaget. Jadi selama ini....
yang kupikir aku jatuh cinta dengannya, hanyalah monolog, tetapi ternyata tidak. Kendati tidak bersambut, paling tidak aku tidak bicara sendirian. Mereka, atau tepatnya dirinya, juga mengobrolkanku. Mereka, tepatnya dirinya...juga memperhitungkan aku.
Kini aku tahu, kenapa dia menelponku tengah malam menjelang malam pertunangannya, hanya untuk menanyakan, harga kamera digital itu berapa. kenapa itu masih selalu menanyakan keadaanku, masih 'menghinaku' kendati sudah punya istri.
Barangkali aku tahu makna dari kata-katanya, 5 atau 10 tahun silam 'Kalau ada urutan sahabat, kamu ada di barisan terdepan' kala itu aku hanya nyengir pahit. Aku ga pengin jadi sahabatmu, walaupun kau taruh di urutan terdepan sekalipun. Aku mau jadi kekasihmu. jadi belahan hatimu....
Hahahaha...solumate. Apakah itu ?
Sampai malam menjelang pagi. Sampai mereka berpamitan pulang. Aku tetap tak menjawab secara tersurat, tentangmemilih siapa waktu itu. Bukankah jawababnnya sudah teramat jelas, seperti jerawat yang nongkrong di jidat. Kemana kalian tatkala aku sendirian ? Bagaimana perasaaan kalian manakala aku menyaksikan satu per satu dari kalian bertunangan ?
Tak ada jawabannya. Bahkan semalaman, menjelang pernikahan pada pukul 8 pagi, 5 Maret silam...aku tak bisa memejamkan mata hinggadzan subuh. Pagi pas ijab qobul, ngantukku tiada tara....
Posted at 07:04 pm by Tean
Permalink
Mar 23, 2006
Ribuan, ratusan ribu pasang mata
Tertuju pada satu arah
Diriku...
Wajah-wajah itu
Menanti...berharap...memuja...takjub
Akan sebuah nada yang keluar dari gerak jemariku
Nada-nada akbar yang menandai kehadiranku
Ribuan, ratusan ribu pasang mata
Masih tertuju pada satu arah
Masih..diriku
Wajah-wajah itu
Mulai jengah...beringsut...belas kasihan
Tatkala menatap jemari ini
Tak ada nada akbar...hanya tulang-tulang yang berkeriyut
Kulit keriput, otot-otot kaku tak merdu
bergeraklah...bermainlah..berikan nada-nada itu
Namun nyeri nyeri semakin menjadi
Aku bukan maestro lagi...
Renungan dari pagelaran Saru Rasa -Mustofa Bisri - Idris Sardi, GKJ, 23 Maret 2006
Aku Masih Sangat Hafal Nyanyian Itu
Oleh: A. Mustofa Bisri
Aku masih sangat hafal nyanyian itu Nyanyian kesayangan dan hafalan kita bersama Sejak kita di sekolah rakyat Kita berebut lebih dulu menyanyikannya Ketika anak-anak disuruh Menyanyi di depan klas satu-persatu Aku masih ingat betapa kita gembira Saat guru kita mengajak menyanyikan lagu itu bersama-sama
Sudah lama sekali Pergaulan sudah tidak seakrab dulu Masing-masing sudah terseret kepentingannya sendiri Atau tersihir pesona dunia Dan kau kini entah dimana Tapi aku masih sangat hafal nyanyian itu, sayang Hari ini ingin sekali aku menyanyikannya kembali Bersamamu
Indonesia tanah air beta Pusaka abadi nan jaya Indonesia sejak dulu kala Selalu dipuja-puja bangsa Disana tempat lahir beta Dibuai dibesarkan bunda Tempat berlindung di hari tua Sampai akhir menutup mata
Aku merindukan rasa haru dan iba Di tengah kobaran kebencian dan dendam Serta maraknya rasa tega Hingga kini ada saja yang mengubah lirik lagu Kesayangan kita itu Dan menyanyikannya dengan nada sendu
Indonesia tanah air kita Bahagia menjadi nestapa Indonesia kini tiba-tiba Selalu dihina-hina bangsa Disana banyak orang lupa Dibuai kepentingan dunia Tempat bertarung merebut kuasa Sampai entah kapan akhirnya
Sayang, dimanakah kini kau Mungkinkah kita bisa menyanyi bersama lagi Lagu kesayangan kita itu Dengan akrab seperti dulu
Puisi ini sempat membuatku menangis..eh seperti cengeng...tetapi bukankah sudah lama kita tak mendengar nyanyian lagu-lagu yang membangkitkan rasa cinta kepada negeri ini. Lagu heroik yang kita nyanyikan tatkala masih mengenakan seragam merah putih, dengan teriakan lantang tak peduli nada sumbang, berdiri menghormat tiang bendera, seolah kita pahlawan yang membawa bambu runcing ! Ah, semoga negeri ini masih layak dicintai...
Posted at 04:53 pm by Tean
Permalink
Feb 15, 2006
KABAR TENTANG PERNIKAHAN...

Suatu malam, saat aku masih berkutat dengan naskah-naskah, HPku berteriak. "Waduh, rasanya aku ga bisa tidur...besok...besok aku harus mengubah status" ada suara panik di seberang sana. Dadaku berdetak tak wajar, ketambahan rasa perih yang tak terdefinisi. "Kenapa ? Bukankah itu membahagiakan ?" jawabku sok bijak. Tapi sumpah...itu tidak tulus. Semenjak telepon berhenti, otakkupun berhenti tak bisa menulis lagi. seperti halnya dia (mungkin), aku tak bisa tidur sampe pagi. Dia tunangan...
Esok harinya, pikiranku serasa tak bersarang di tubuh. Kuamati jarum jam, kuperkirakan juga peristiwa jauh di seberang sana...kini kamu sudah bangun...jam segini kamu pasti mandi...jam segini kamu pasti sudah di hadapan sanak saudara...jam segini...pasti kau sudah sematkan cincin pertunangan...seharusnya aku yang memakainya...kenapa bukan aku...kenapa aku harus ah ingin menangis...sudah menangis..SIALAN !!!!!
Di hadapanku kamu menunduk. Mengabarkan tentang pernikahanmu. "Huahahaha..akhirnya, sampai juga perjalananmu," tawaku. Tapi sungguh, aku mau pingsan rasanya. Itulah jawaban-Nya..suka atau tidak suka, dia akan menjadi milik orang lain. Seperti fajar dinikahi langit pagi. Aku hanya boleh memandang kemegahannya, tanpa bisa meraih..apalagi memiliki. Tak apalah....memang itu seharusnya. Dengan dagu tercuat, sok gagah..aku datang ke pernikahannya dengan dandanan yang sistematis. Kusadari aku memang bisa tampil beda (untuk tidak mengatakn lebih cantik hehehe). Ayah ibunya sampai tak menyangka..itu aku.
Kini, tahun berselang...akupun punya kisah sendiri. Aku yang menjadi dirinya.
Kukabarkan berita pernikahan. Yang menikah adalah diriku. Dengan kepala menunduk, aku berujar lirih " Insyaallah tanggal 5 maret, kamu datang ya..." Aku tak berani menatap matanya. Mata tulus seorang lelaki, sederhana, yang telah lama memproklamirkan diri sebagai sahabatku, yang selalu ada saat aku butuh, yang selalu menemaniku kala aku jatuh, yang selalu memendam rasa tanpa bisa berkata, bahwa cinta tak harus diucap dengan kata. tapi ternyata aku tak peka. Ah....semoga aku tidak GR, kalau ada yang patah hati dengan kabar ini. Maafkan aku...
Berita pernikahan...ada kebahagiaan, ada harapan, ada dheg dhegan, ada keindahan, ada...sesuatu yang tak terlukiskan. Wangi kembang melati, membuai jiwa-jiwa yang mengikat janji..kuharap mampu juga menghibur yang patah hati. Jika kemarin aku yang patah hati, kini kau yang menjalani. Entah..kenapa mesti ada seperti ini...
Percayalah, yang kau sayangi takkan pernah benar-benar pergi. Dia selalu ada di sini....(kata Sirius Black sambil meletakkan tangannya di dada Harry Potter, tepat di ulu hati - adegan paling romantis dalam Film Harry Potter and The Prisioner of Azkaban)
Posted at 07:57 pm by Tean
Permalink
Feb 9, 2006
DIMANAKAH BAHAGIA BERADA...
Sore tadi aku diundang nongkrong di sebuah restorasn siap saji oleh pecinta kucing. Kami ngobrol ke sana kemari. Tak lupa cerita tentang peliharaan mereka. Ada salah seorang cat lover, begitu kami menyebut pecinta kucing, ngomongin tentang kucing domestik (sama artinya dengan 'kampung').
Jika Anda baru datang, tak tahu awalnya, pasti Anda bakal mengira kalau yang diceritakan itu anaknya. Coba simak ;
'Si Manis itu..aduh, dia itu sok kalau di rumah. PAs dibawa ke lomba, diem aja. Ketakutan. Udah disamperin temennya, di Leo tapi tetep aja takut. Badannya gemetar, demam..aduh panik aku. Sampai di rumah..ga sampai 5 menit...udah biasa lagi. jalan-jalan dan main sama Lilo.
Tiap hari mandi di wastafel, pakai air hangat. Aduh Manis....suka ngambek kalau ditinggal enggak bilang-bilang.." Mereka menceritakan dengan air muka bahagia, dengan bersemangat. Bahkan mungkin kalau aku tak keburu ke kantor lagi, pasti akan sampai tengah malam...
Begitulah. Aku simak, aku larut dalam obrolan mereka. Aku mencoba memahami. sungguh, jika dengan pemahaman umum, Anda pasti akan menanyakan, buat apa, kucing saja ??? Bahkan ada yang merelakan hidupnya, tidak menikah, tidak punya anak, hanya untuk kucing. apakah sudah tak waras ? Apa yang bisa dilakukan kucing untuk kita ? Bayangkan...daripada mengadopsi kucing, kenapa tidak anak angkat saja? Jadi kalau hari tua...apakah kucing yang akan merawat ? masih mending manusia kan ?
Sungguh pertanyaan itu tak bisa dijawab dengan kaca mata umum. Aku hanya bisa bertanya-tanya dalam hati...DIMANAKAH BAHAGIA BERTATAHTA ?
Nb. ini mau posting foto ga bisa mulu...
Posted at 08:00 pm by Tean
Permalink
Feb 3, 2006
Aku tak mau menulis lagi,
Ketika huruf-huruf sudah tak lagi bermakna
Kata-kata hanya sebatas gelombang suara
Menambah bising kota dan tak mengubah apa-apa
Aku tak mau membaca lagi,
Semua menjejalkan teori
Slogan-slogan langit yang tak teraih
Mimpi-mimpi tak berguna
Aku tak mau bicara lagi
Buat apa ?
Aku teriak, aku memohon, aku memaki
Toh semuanya tetap berjalan sebagaimana awal
Yang aku mau kini hanyalah
Menatap matamu yang memijarkan keyakinan
Bahwasannya kau harus berjalan hingga langkah terakhir
Aku kagum, sahabat....
Untuk kau, yang entah dimana
semoga kau masih selalu yakin
Jauh di seberang perbatasan
Ada sahabat yang akan selalu tersenyum untukmu
Posted at 02:16 pm by Tean
Permalink
Dec 9, 2005
Bocah itu begitu ceria...
Posted at 08:20 pm by Tean
Permalink
Hallo kawan-kawan yang tak kasad mata tapi aku yakin ada....
Lama sekali aku tak berkunjung ke persinggahan ini. Begitulah kalau penyakit kambuhannya kumat. Tidak kreatip, tidak peka lingkungan dan tidak ingin melakukan apa-apa. Bahkan tidurpun tak ingin. Udah deh...pokonya seperti bunga krisan kering yang udah jelek...keinjek-injek..lalatpun males melirik
Sampai tapi malam...sayup-sayup aku dengar tentang 55 warga Papua yang meninggal karena kelaparan. Tiba-tiba aku terbangun...lalu teringat kenangan Juli lalu.
Waktu itu aku dapat tugas ke Biak. Karena pesawat Hercules ada yang jatuh, jadi perjalanan yang hanya 4 hari jadi 9 hari di Papua.
Aku, beserta rombongan dari Jakarta lainnya, disambut di hotel termegah di Biak. Para pejabat menyambut kami dengan teramat meriah (saya berterima kasih). Namun, di tengah semaraknya pesta...aku merasa sepi. Acara yang dihadiri banyak petani dari penjuru negeri, banyak pejabat tinggi, bahkan menteri pundatang..tak dimanfaatkan untuk membahas hal-hal yang bermanfaat. Selain pesta-pesta dan ceremonial...
Bahkan aku sempat nelangsa...suatu malam, petani anggrek ngumpul di hotel untuk jamuan makan malam. sampai jam 9 malam pak menteri tidak datang-datang, sementara makan malam harus menunggu menteri. Waktu perut sudah tak bisa bunyi lagi, menteri datang dari mancing...lalu pergi lagi, katanya lelah dan butuh istirahat.
Aduh....berapa sering sih pejabat datang ke Papua. Kenapa moment itu tak digunakan untuk membahas kemajuan petani, atau setidaknya menampung uneg-uneg warga yang sudah seabreg....
Suatu siang, di kala ada jamuan makan siang. Aku sudah sedih sekali. Aku memilih makan di salah satu warung pinggiran (yang ternyata masakan Surabaya. Aduh...jauh-jauh ke Irian kok ketemunya masakan Surabaya plus gorengan Klaten !).
Entah karena saking semangatnya ketemu dengan 'tentangga', ibu itu memberi porsi yang luar biasa. Makanya, walau sudah keringetan..tetap saja nasi itu tak habis. Lalu, piring nasi itu aku kasih ke ibu tukang cuci piring. Sisa nasi itu tidak dibuang, melainkan dirapikan. dengan bahagia..ibu itu memberikannya ke cuplis cili...yang ternyata anaknya. Dengan lahap, bocah legam itu menyendok nasi.
Kupalingkan wajah..dan aku menangis !!! Jadiii...di kala aku susah payah menjejalkan nasi ke perutku yang kepenuhan, sepasang mata mengamatiku dengan menahan lapar.
Dan tak jaub dari tempat itu,......banyak nasi dan makanan enak menggunung untuk perut yang sudah gendut.
Ketika aku mendengar ada 55 orang meninggal karena kelaparan...tak seharusnya aku heran.
Posted at 08:04 pm by Tean
Permalink
|
|
 |
|
 |
 |
 |
Tean
27th
Perempuan
Mencoba menjadi journalist
Suka melihat matahari terbit
Suka baca Kahlil Gibran dan Seno Gumira
Suka denger Richard Marx, Bryan Adam
Suka film-nya Shah Rukh Khan
Single
|
 |
|