Mar 23, 2006
SANG MAESTRO

Ribuan, ratusan ribu pasang mata

Tertuju pada satu arah

Diriku...

Wajah-wajah itu

Menanti...berharap...memuja...takjub

Akan sebuah nada yang keluar dari gerak jemariku

Nada-nada akbar yang menandai kehadiranku

Ribuan, ratusan ribu pasang mata

Masih tertuju pada satu arah

Masih..diriku

Wajah-wajah itu

Mulai jengah...beringsut...belas kasihan

Tatkala menatap jemari ini

Tak ada nada akbar...hanya tulang-tulang yang berkeriyut

Kulit keriput, otot-otot kaku tak merdu

bergeraklah...bermainlah..berikan nada-nada itu

Namun nyeri nyeri semakin menjadi

Aku bukan maestro lagi...

 

Renungan dari pagelaran Saru Rasa -Mustofa Bisri - Idris Sardi, GKJ, 23 Maret 2006

Aku Masih Sangat Hafal Nyanyian Itu

Oleh: A. Mustofa Bisri

Aku masih sangat hafal nyanyian itu
Nyanyian kesayangan dan hafalan kita bersama
Sejak kita di sekolah rakyat
Kita berebut lebih dulu menyanyikannya
Ketika anak-anak disuruh
Menyanyi di depan klas satu-persatu
Aku masih ingat betapa kita gembira
Saat guru kita mengajak menyanyikan lagu itu
bersama-sama

Sudah lama sekali
Pergaulan sudah tidak seakrab dulu
Masing-masing sudah terseret kepentingannya sendiri
Atau tersihir pesona dunia
Dan kau kini entah dimana
Tapi aku masih sangat hafal nyanyian itu, sayang
Hari ini ingin sekali aku menyanyikannya kembali
Bersamamu

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Selalu dipuja-puja bangsa
Disana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata


Aku merindukan rasa haru dan iba
Di tengah kobaran kebencian dan dendam
Serta maraknya rasa tega
Hingga kini ada saja yang mengubah lirik lagu
Kesayangan kita itu
Dan menyanyikannya dengan nada sendu

Indonesia tanah air kita
Bahagia menjadi nestapa
Indonesia kini tiba-tiba
Selalu dihina-hina bangsa
Disana banyak orang lupa
Dibuai kepentingan dunia
Tempat bertarung merebut kuasa
Sampai entah kapan akhirnya


Sayang, dimanakah kini kau
Mungkinkah kita bisa menyanyi bersama lagi
Lagu kesayangan kita itu
Dengan akrab seperti dulu

Puisi ini sempat membuatku menangis..eh seperti cengeng...tetapi bukankah sudah lama kita tak mendengar nyanyian lagu-lagu yang membangkitkan rasa cinta kepada negeri ini. Lagu heroik yang kita nyanyikan tatkala masih mengenakan seragam merah putih, dengan teriakan lantang tak peduli nada sumbang, berdiri menghormat tiang bendera, seolah kita pahlawan yang membawa bambu runcing ! Ah, semoga negeri ini masih layak dicintai...


Posted at 04:53 pm by Tean

orie.........
November 16, 2007   10:45 AM PST
 
Good...good....
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry


  • Tean
  • 27th
  • Perempuan
  • Mencoba menjadi journalist
  • Suka melihat matahari terbit
  • Suka baca Kahlil Gibran dan Seno Gumira
  • Suka denger Richard Marx, Bryan Adam
  • Suka film-nya Shah Rukh Khan
  • Single


  •    

    << March 2006 >>
    Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
     01 02 03 04
    05 06 07 08 09 10 11
    12 13 14 15 16 17 18
    19 20 21 22 23 24 25
    26 27 28 29 30 31






    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed