 |
 |
 |
|
Oct 14, 2005
PAK SBY GIMANA ATUH MAH....
Hujan deras mengguyur Cipanas kemarin sore. Saya dan rekan fotografer menggigil di angkutan jurusan Cipanas - Loji. Hanya ada 6 penumpang. Salah satu penumpang itu mengaku bernama Mahmud, lelaki yang menamatkan SMU tahun 2002 di Jakarta. Pernah bekerja di Roxy Mas lalu memlih pulang ke kampung halamannya. Lantas menjaga vila milik orang kaya dari Jakarta.
"Kita mah...jadi kambing congek yang mbersihin vila di sini. Tapi kagak tau dah...semua udah komersial. Kita yang warga sini, masuk komplek mesti bayar euy...jadi malas jalan-jalan ke sana," katanya dengan logat Sunda yang kentara.
Ada salah satu komplek perumahan elit di Cipanas. Komplek yang penuh bunga. Indah sekali. Namun sayang, keindahan tersebut menjadi sangat angkuh. Dia berdiri megah dan menyendiri. Seakan tertutup dari warga sekitarnya. warga yang dulu pernah menjaga inchi demi inchi tanah moyangnya.
Ada banyak sekali model rumah di sana. Rumah yang penuh dengan bunga. Hanya saja..bunga-bunga itu mekar sendirian. Tak ada yang menikmati indahnya. Hanya kumbang-kumbang liar yang sesekali singgah. Karena rumah yang sedemikian mewah tak ditemukan satupun penghuninya. Sepi. Kosong. Sementara di luar sana...manusia berdesakan dalam satu petak sempit.
Mungkin inilah yang menjadikan Karl Marx bermimpi untuk membangun sebuah negeri utopia. Negeri dimana tak ada kepemilikan pribadi di dalamnya. semua milik bersama. Tetapi..semua juga harus bekaerja !!!
Lalu obrolan berlanjut. Obrolan angkutan dan otomatis naiknya BBM.
"Kagak tau atuh mah...kok SBY kayak gitu. Itu BBM teh...sekarang mahal amat. Kagak tau mah, angkutan ke Jakarta berapa," katanya sambil merapatkan lutut yang diselimuti celana pendek.
"Kita mah rakyat...semakin menderita saja. Enak atuh mah...jamannya Pak Harto, BBM murah, rakyatnya tenang...enggak ada bom," katanya polos.
Aku gigit bibir keras-keras. Perih sekali rasanya. Ada banyak sekali 'Mahmud' di negeri ini. Yang menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan yang mereka rsakan saat ini.
Seandainya dia tahu...kalau dulu BBM murah itu karena sebuah rezim yang memanjakan dengan subsidi. Lalu subsidi itu diambil dari sedikit persen hutang. Lalu banyak persen hutang masuk ke kantong yang tak bertanggung jawab.
Kini, ketika tiba saatnya...hutang harus dibayar. Subsidi harus dicabut karena kantong-kantong tak bertanggung jawab yang masih menyimpan uang itu..tetap tak tersentuh..
Mahmud-Mahmud itu menjerit. Tempat mereka mengadu sudah sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Bahkan benteng terakhir negeri menggantungkan keadilan..Mahkamah Agung..sudah tak agung lagi. Ada penipuan di sana...
Posted at 12:22 pm by Tean
Permalink
Sep 14, 2005
SELEMBAR DRAF PERTANYAAN UNTUK WARTAWAN
Silakan duduk, Wartawan
O ya, saya sediakan segelas kopi untukmu
Ehemm...kau kelihatannya lelah
Semalam habis deadline ya?
Bolehlah beristirahat sebentar
Sambil menikmati hangatnya mentari pagi ini
Barangkali kau tak pernah melihat matahari tepat pada waktunya
Ehemm...ehemmm...sudah sedikit lebih baik, Wartawan ?
Ok, mari kita mulai perbincangan ringan hari ini
Santai saja, sambil menikmati kacang rebus juga boleh
Ini bukan pembahasan politik yang penuh intrik
Atau fluktusai ekonomi yang tiada henti
Bukan juga tentang pengadilan koruptor yang teramat korup
Sejenak lupakan derita rakyat jelata yang kehilangan kata keadilan
Bagaimana jika kita bincangkan tentang dirimu sendiri : Wartawan
Aha...Anda sebagai pencatat lakon dunia yang handal
Tetapi sungguh jarang, ada catatan tentang dirimu sendiri
Tak adakah waktu untuk sekedar menulis autobiografi
Atau tak terlalu muluk...menulis diary hari ini
Sejenak menengok dirimu, Wartawan
Apa kabar kehidupanmu ?
Beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan kekasihmu
Dia sudah bersanding dengan lelaki lain
Saat kusinggung namamu
Ada sedikit gurat luka di bening matanya
Dengan serak ia berkata,” Dia tak pernah punya waktu untukku,”
Kau memilih hidup sendirian...ya sendirian
Bersenggama dengan kegelisahanmu
Maaf, aku mengingatkan dirinya
Berbaringlah jikalau penat
Ups....ada apa di dahimu ? Kenapa membiru ?
Seseorang telah menghajarmu ?
Kenapa ?
Karena kamu menulis tentang kebusukan orang yang berpengaruh
Aduh, sungguh sakit
Ada kalanya kamu harus belajar kung fu macam Jet Lee
Memang sih..kamu orang sipil
Tetapi medan yang kau tempuh bukanlah medan sipil lagi
Atau minta senjata macam MK 147?
Habiskan kopimu, jangan sungkan-sungkan
Mungkin untuk segelas kopipum kau harus mulai berhitung
Kau sangat tahu, bahwa negeri ini diterjang krisis
Banyak rakyat bawah yang daya belinya menurun
Ya..ya..kau tulis rakyat bawah
Mungkin kau lihat rakyat bawah sebagai kelompok lain selain dirimu
Tetapi akhirnya kau sadari, kenapa nasibnya sama?
Ehemmm...
O ya, wartawan
Ini ada sepucuk surat dari Riyadh
Ia hanya bercerita tentang nasibnya sebagai buruh migran
Satu lagi surat dari negeri sendiri
Tentang demo perubahan nasib karyawan outsourching esok pagi
Mungkin redaksionalnya kurang bagus
Kau bisa mempercantik bahasanya
Tetapi mengapa tulisannya menjadi begitu berperasaan
Apakah kau juga alami yang sama ?
Theng..theng...o ya, waktumu untukku habis
Ada press conference yang harus kau datangi
Lekaslah berangkat, jangan terlambat
Selamat bertugas
O, ya...kacang rebusnya boleh kau bawa
Sekedar buat bekal di perjalanan yang lama
Karena Jakarta macet hari ini
Posted at 04:13 pm by Tean
Permalink
Aug 30, 2005
CACAR AER! HAREE GENEEE....
Hemmm..tak kusangka, kini saat aku sweet senten (tambah 10 hehehe), aku mengalami sakit cacar air. Sakit yang kukira hanya dialami oleh anak balita.
Pulang dari jawa timur, tiba-tiba badanku demam, lemas dan ngantukan. kupikir ini akibat perjalanan jauh. Tapi kok enggak sembuh-sembuh. Malah didagu muncul benjolan imut. Tumben aku jerawatan. Enggak sombong sih..kendati jarang facial, cuci muka pake lotion..aku jarang jerawatan (Mungkin ini kebaikan-Nya, tau aku rada tak mau repot (malas :D) Tuhan ngasih aku kulit yang tahan kedap masalah (badak ?!).
Setiap malam demam semakin tinggi dan semakin enggak jelas. Mau tak mau aku ke dokter. Dokter pertama kurang begitu yakin, karena dokter satu ini setiap kali aku ke situ kok obatnya sama. Vitamin C sama obat sakit maag plus antibiotik.
Esok harinya, banyak bintik-bintik imut di bagian...(sensor). Akhirnya aku ke RS. Dokternya rada centil. Tanpa banyak nanya, dia langsung mengeluarkan statment "Itu cacar air, Non!". Akhirnya sret..sret...nulis resep. Begitu bayar resep, Rp 257.600,- ...waduh, duitnya kurang Rp 5.600,-. ATM tidak ada. Akhirnya aku nanya, boleh enggak beli setengah resep.
"Gimana mau setengah, bentuknya cream...apa dicolek ?," jawab apotekernya sambil senyum. "kalau mau yang generik..lebih murah," katanya memberi solusi.
Generik itu harganya Rp 47.000,-...waduh, jauh amat. isinya apaan tuh..jangan-jangan beneran sabun colek!
Ah, aku berprasangka baik. Akhirnya resep murah itu aku beli. Uang masih sisa dan bisa naek taksi!
Sampai di kantor, banyak yang nanya. Pas aku bilang cacar air, ada salah satu teman yang histeris. "Itu kan bisa nular..itu kan bisa bopeng...itu kan..." Shocked juga aku dibilangin gitu.
"Itu yang dinamai sakit panu bisa mati bunuh diri itu ya gitu..." jawabku rada tajam juga.
Sebenarnya pengin escape saja dari kantor, karena muka rasanya seperti ditusuk-tusuk seribu mikroba (merinding deh...). Tapi deadline..sementara enggak ada yang tahu tentang permasalahan itu. mau enggak mau, 2 hari aku bertahan di kantor.
Hari ke-3 aku benar-benar terkapar di kos. Ini hari yang menyedihkan. sakit...sendirian. Senjata orang hidup sendiri itu adalah sehat...kalau sakit, matilah awak! 3 hari aku terkapar tak berdaya, membayangkan ribuan kuman menggerogoti kulitku. Hiiyyyyyy...ini benar-benar bikin aku merinding dan susah tidur.
Asal tahu saja, cacing, kecoak, ulat bulu, tikus got..apa aja lah yang banyak orang jijik, aku enggak. tetapi membayangkan benda-benda kecil, berkerumun dan banyak....aku pasti merinding. Begitu melihat tubuhku banyak gelembung....merindingku setengah mati. itu yang bikin aku tersiksa dan jijay ....
Akhirnya, penderitaanku berakhir juga. dengan serentetan doa dan ritual khas orang sakit...minum obat dan susah makan. Kini yang tertinggal...wajah seribu bintang!!!!
Posted at 05:43 pm by Tean
Permalink
Aug 24, 2005
Saat mendengar dia mau tunangan, sungguh duniaku runtuh kala itu...2 tahun silam. Dia adalah seseorang yang sempat menjadi alasan bagiku untuk bangun di pagi hari (cieee). Lalu ternyata...bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun..pertunangan itu tak pernah terwujud. What's wrong ? I dont know! (jadi 'keruntuhan duniaku' begitu tak beralasan alias basi)
Lalu beberapa bulan silam, dia mengatakan padaku, bahwa di mau menikah. Anehnya, aku tetap bergeming. Datar banget. "Ya, kasih tahu tanggalnya jauh-jauh hari, agar aku bisa mengajukan cuti".
Sabtu kemarin aku mendatangi pernikahannya. Sebuah 'ritual' untuk mengubah status sosial, dari tidak kawin (di KTP) menjadi kawin. dari 'belum berkeluarga' menjadi 'berkeluarga'.
Dalam perjalanan, mau tak mau romantisme basi itu terulang lagi. Aku merasa kehilangan dan terpuruk. Apalagi para sahabat dekatku yang selalu ada saat aku butuh (mulai dari remeh temeh nganterin ke stasiun, nemeni ke pernikahan teman, nonton di bioskop atau nongkrong di pantai), tak satupun yang bisa menemaniku ke pernikahan itu.
"Wah, sorry ya..aku udah ada temen," dan aku sangat tau apa makna temen itu. Apakah pesta pernikahan itu ajang show of force atas kemampuan menaklukan lawan jenis (atau kadang bukan lawan jenis juga)..hehehe..ini mah pernyataan iri!!!!
"Sorry, aku ada meeting sampai sore," itu kata sobat yang lain. Kalau ini, bisa juga sih!
"Aduh, sayang...Mas enggak bisa cuti," ini alasan si 'ehem'. Hua..hua...hua...nangis ah!
Sungguh aku terpuruk mulai perjalanan dari Jakarta via kereta. Mana sebelahku ada gadis yang manjanya ampun-ampunan, bikin aku tak bisa tidur semalaman. Mana keluhannya pegal, berisaik dll. Lha kalo enggak mau pegal ya nyari kereta yang kayak Air Force One! Seribu makian dan keluhan muncrat tak terbendung. Diary yang sudah lama taktersentuh kembali muntah dan neg dengan segala uneg-uneg
Masak sih aku datang sendirian ke pernikahan itu ? Kalau yang menikah adalah kerabat yang tak punya 'sejarah', its oke! Tapi dia...benar-benar aku tak punya nyali! Kalau dia..aku yakin tak apa-apa. Tapi geng-nya itu begitu nyinyir. Pasti akan melihatku sebagai pecundang ! huhuhu
Di kos temen tempat aku mandi, aku mulai termangu. haruskah aku berangkat sendirian?? Tiba-tiba ada telepon dari sahabat dekatku yang sudah punya anak satu.
"Hey..kamu dimana? Cepat datang...kita semua sudah ngumpul di sini,"
"Emmm..mereka sama istrinya semua kan ?"
"Ck...ck... please deh, pertanyaanmu itu menyudutkan daku jadi tak laku lagi. Ayolah, datang dan kita bercerita tentang cinta huahahahha," kata-kata jenaka sahabat yang dari dulu memang sudah jenaka itu memberi semangat. Aku datang
Dengan berpenampilan yang luar biasa beda (seumur-umur aku jarang pakai hak tinggi plus rok!). This is me ! Lihatlah..sayapku tumbuh sudah. Aku bisa terbang laksana kupu-kupu yang bermetamorfosa. Aku datang dengan dagu tercuat (ini rada sombong dikit sih).
Kekhawatiranku tak terbukti. Aku begitu bahagia di sana. Dan sahabat-sahabatku yang awalnya begitu mengkhawatirkan 'kepatahatianku', berbalik memaki-maki karena aku 'jegigas jegigis' alias banyak tertawa. Rasa itu telah mengkristal atau luluh jadi abu. Ah Tuhan...terima kasih. Atas 'kekuatan' yang Kau berikan, yang saya sendiri tak menyadarinya.
Hari ini aku sudah nongkrong di kantorku lagi. Badan rasanya pegal dan demam tinggi. Ini sih bukan karena tsunami hati, tapi karena murni kecapekan...terantuk-antuk kereta bermalam-malam! Selama perjalanan aku sempat mikir, ini kereta, penumpang selalu penuh, bayar Rp 180.000,- per kepala, kok ya fasilitasnya makin amburadul. Mana kursi pada somplak, derit besi makin terdengar kerentaannya, banyak kecoak !
Posted at 10:16 am by Tean
Permalink
Aug 15, 2005
KULIHAT CERMIN NEGERIKU...
Minggu kemarin aku memenuhi undangan sahabatku untuk mengunjungi rumahnya di 'kawasan timur Indonesia' tepatnya di Pulau gebang, Bekasi. Heemmm...sebenarnya malas banget, kalo tidak didorongkan keinginan luhur dan berkebangsaan yang bebas (apa sih..!).
Perjalanan dimulai dengan naik bis, biasanya naik P7 ke Pulogadung. Tetapi karena sudah panas, saya malas ke terminal Grogol makanya langsung nyetop di dekat Critraland. Naik bis entah apa...aku pikir langsung masuk tol. Ternyataaaa...bis itu muter-muter, lewar Sudirman, Bundaran HI, pasar pramuka dll. Alhasil...bukannya tambah cepert..tapi tambah luaaamaaa
Di Bundaran HI saya sempat lihat demo anti AS. Salah satu spanduknya bertuliskan "AS OBOK-OBOK ACEH DAN PAPUA, ANTI AS bla..bla". Maaf, saya tak bermaksud mengecilkan arti semua yang dilakukan oleh para demonstran itu. Ini hanya pendapat saya, dan bisa saja saya salah...
Anti AS ? Saya setuju, kalau 'politikus' (ingat ya...politikusnya) AS memang tidak layak dijadikan sahabat. Tetapi kalau kita teriak anti AS...konsekuensinya kita enggak pakai produk AS. Enggak pakai jalan tol (karena sebagian utangannya dari AS), enggak makan McD, enggak liat film bikinan AS, enggak pakai celana JEANS, LEVIS (walau yang kita pakai bikinan Bandung, tapi brand-nya kan AS juga??).
Apakah tak lebih arif jika kita membendung pengaruh luar dengan memperbaiki diri sendiri. tak usah mencela orang lain tetapi membangun karakter masing-masing, membangun jati diri negeri ini. Jikalau jati diri kita sudah kuat, pengaruh apapun, termasuk AS sekalipun tak akan mempan mempengaruhi otak kita.
Tentang Aceh dan Papua. Saya bukan penduduk ke-dua pulau itu. Hanya saja, saya berkesempatan untuk mengunjungi beberapa minggu. Dan saya melihat, betapa mereka tak tersentuh. Di mana orang-orang yang berteriak itu, manakala rakyat Aceh butuh tempat bernaung kala tsunami menerjang. Diakui atau tidak, orang luar termasuk AS yang paling cepat bertindak. Mungkin saya perpikiran norak. Tetapi bagi orang yang sekarat...saya pikir siapa yang menolong lebih dulu, itulah yang dihargai.
Atau dimana para politikus yang bertikai itu manakala masyarakat Papua mengejang karena serangan AIDS? Di mana slogan-slogan itu tatkala bocah berkulit legam itu menanti nasi sisa di warung makan?
Maaf, mungkin saja ini kalimat emosional. Saya hanya ingin...bangkitlah indonesiaku
Posted at 05:10 pm by Tean
Permalink
SECANGKIR KOPI UNTUK KEKASIH...
Pagi hari...
Aroma kopi bubuk menyeruak di rongga nafas
Uap hangat meraup wajah
Kekasihku yang tengah terlelap
"Bangun, Sayang....kopi hangat untukmu"
Sepasang matahari sederhana bercahaya
Sorot matanya membinarkan rasa
Terima kasih
Siang hari,
Matanya tajam menatap
Pada semesta mungil yang menunjukkan eksistensi
Kekasihku begitu larut dengan dunianya
Aku terpesona
"Jangan lupa makan, Sayang...kubikinkan sup jagung kesukaanmu"
Senja hari,
Hari ini mulai berakhir
Wajahnya begitu lelah
Badan rebah mengusir resah
Menatap mentari yang mulai tak berpijar
"Apa kabar, Sayang...semoga harimu menyenangkan. Lupakanlah sejenak. Mandi air hangat dengan sedikit garam....,"
Larut malam,
Aroma kopi bubuk kembali menyeruak
Menyapa sayu mata yang ingin terkatup
Membasahi jemari kaku yang terus menandak di atas key board
Tenggelam di antara sobekan-sobekan kertas
"Istirahatlah sejenak. Kopi hangat akan menyegarkan dirimu..."
Kulihat senyum indah
Dan genggaman jemari hangat..
Sayangnya...
Kisah di atas bagai dongeng Cinderella
Sang putri yang lemah gemulai dipersunting oleh pangeran yang perkasa
Cinderella mengurus rumah tangga
Sementara pangeran mengurus negara
Maafkan, Sayang
Ternyata aku bukan sang Cinderella
Yang rela dan serta merta berkutat dengan kesunyian perkakas dapur
Namun, sebentuk bara yang menggelegak dalam nadi dan hati
Walau tak seperkasa Xena
Tetapi aku ingin 'ada'
Ada untukmu
Ada untukku
Kutahu, sayang
Kau akan meragukan aku
Karena aku tak selalu ada untukmu
Tetapi satu yang tak perlu kau ragukan
Bahwa aku sangat menyayangimu...
Posted at 02:15 pm by Tean
Permalink
Aug 8, 2005
ONCE UPON A TIME IN PAPUA....
Seseorang telah mengatakan padaku, setahun silam ...
"Papua itu indah banget, De'...aku pernah ke Timika, naik twin otter..aduh rasanya seperti mau mati...,"
Dia adalah sang pencerita hebat....kala itu aku begitu terpesona dan seakan ikut nongkrong di sol sepatunya.
Setahun berlalu... sang pencerita tak mau lagi bercerita. Dan kini....akulah yang menjadi pencerita itu pada Anda semua
9 Jam 40 menit, Hercules (pesawat paling hebat yang pernah kunaiki!!), membawaku landing di Lanud Manuhua. walau tak naik twin otter, tetapi naik Hercules cukup menyadarkan diriku bahwa Papua memang jauh dari Jakarta. "Papua...aku datang !,"
Perjalanan itu begitu menakjubkan bagiku. Kendati aku tak ketemu dengan orang berkoteka seperti yang aku bayangkan, tetapi alam Papua memang menakjubkan. Hutan-hutan yang masih perawan dan menyimpan kekayaan plasma nutfah yang luar biasa.
kalau diperhatikan, dalam satu tegakan bernaung puluhan spesies mulai dari tanaman epipit yang kasad mata, anggrek papua yang terkenal seantero dunia hingga jasad renik yang tak terlihat mata. Dan betapa bodohnya bangsaku jika hanya melihat kekayan hutan sebatas kayu semata!!!
Mengelilingi kepulauan Biak Numfor selama 9 hari, memberi cerita padaku...Indonesia begitu luas! Di Pulau Undi, pulau tak berpenghuni di sebelag tenggara Biak, ribuan kelelawar yang besar-besar (tapi masih kalah besar kalo dibandingkan dengan Batman Begin)...Laut yang biru (biru beneran...enggak pake photoshop), bintang laut warna-warni bisa disentuh dengan jemari..tak lupa pula gatalnya bulu babi (hehehe). Di sini aku bisa melihat, nyiur yang benar-benar melambai seperti dalam kartu lebaran...
Bocah-bocah yang salting diudara...byur...menyelam di beningnya segara. Mereka begitu ceria....Kontras sekali dengan kenyataan yang memberi predikat 'Papua itu terbelakang'
Mirisnya aku melihat kemiskinan struktural masyarakat yang tinggal di tengah melimpahnya biodiversity (dimana seperempat dari puluhan ribu anggrek spesies dunia tinggal di Papua), menyaksikan bagaimana doktrinasi rezim dimana masyarakat disana sudah diajari untuk menganggap dirinya bodoh....menerima saja ketika kekayaan alam diangkut didepan mata baik melalu illegal logging sampai pencurian genetik.
Mereka begitu menerima manakala dituduh sebagai dalang gerakan Papua merdeka...mereka tak protes ketika pelanggaran HAM dideritanya. Keikhlasan itu jelas terlihat di mata warga Wadibu, desa kecil di sebelah timur pusat kota Biak. Dengan penuh khidmad, salah seorang warga berkulit legam itu menghormat merah putih...sendirian....manakala mau menurunkan bendera itu dari halaman rumah di sore hari.
Kesemua yang kurasakan itu membuatku senantiasa bersukur, aku masih diberi kesempatan untuk punya hati untuk merasakannya..ditengah maraknya pesta-pesta penyambutan kedatangan kami yang diadakan oleh para pejabat di Papua.
Kesemua itu mengharuskan aku untuk berterimakasih kepadamu...karena kau telah berkenan membagikan sedikit pengalaman dan 'teknik pandang' dunia melalui mata seorang jurnalis.
Photo menyusul deh.....
Posted at 02:43 pm by Tean
Permalink
Jul 12, 2005
DARI SUKMA AYU HINGGA SOE HOK GIE...
Di beberapa milis, perdebatan tentang penerbitan ulang buku Catatan Seorang Demonstran milik Soe Hok Gie yang diberi cover Nicolas saputra menjadi perdebatan hangat. Kenapa covernya Nico? Nico kan bukan demonstran seperti Gie bla..bla..bla
Aku baca tulisan di TEMPO (lupa tanggalnya), remaja namanya yang diberi nama Gina, sedang asyik melongok tumpukan buku yang covernya Nico. Mereka begitu tertarik karena wajah Nico. Tetapi tentang nama Gie yang tertera...ia angkat bahu. Lalu pas tanya ke temennya...temennya pun bernasib sama, angkat bahu...
Saya enggak menyalahkan siapa-siapa...bukan hal aneh jika 'tokoh pejuang' kendati usianya remaja...tak bakal seterkenal artis. Boro-boro yang jaman dulu..yang baru-baru ini saja...tahun lalu ketika Munir meninggal bersamaan dengan Sukma Ayu, media televisi yang notabene paling dekat dengan masyarakat..lebih sering menayangkan meninggalnya Sukma Ayu daripada Munir. Sekali lagi...saya bukan berarti tak sedih dengan meninggalnya Sukma Ayu...tetapi saya hanya membantin...ternyata Sukma Ayu lebih layak tayang 'daripada sekedar' tokoh Munir.
Tatkala saya protes waktu melihat tayangan ini...beberapa teman tertawa. Komentarnya :
"Kamu pikir menayangkan Munir itu gampang...resikonya, Non! Ya lebih gampang mengekspos Sukma Ayu...yang lebih banyak orang tertarik tanpa ambil resiko. Kamu bandingin aja....dari segi jumlah kepala di negeri ini...bandingin yang kenal Munir dan perjuangannya dan Sukma Ayu. Aku berani taruhan..pasti banyak Sukma Ayu"
Dan aku juga tahu...temanku benar.
Dulu..tahun 1996, saat pertama kenal dunia kampus, saya baca buku Catatan seorang demonstran dan Zaman Peralihan. Dari buku itu...walau saya tak tahu wajah Gie seperti apa..aku bisa jatuh cinta! Sungguh...aku bayangkan, seandainya dia hidup saat ini..dia masih mahasiswa seusiaku..hemmm. Buku itu sedikit banyak mempengaruhi pola pikirku. Aku lebih memilih masuk Mapala dan bergelut di dalamnya..aku lebih memilih diam daripada ngobrolin harga diskon celana dalam di mal (faktor lain karena enggak punya uang heheh). Karena baca Gie..aku tak pernah pusing dan rendah diri jika enggak modis.
Jelas kebiasaanku 'enggak normal'. Skala sempit saja..dibanding mahasiswi satu kost-ku yang jumlahnya hampir 30 orang, hanya aku yang malas mempercakapkan tentang mall dan belanja. Di kampus....kenyataan itu tak jauh beda.
Saya kira, keadaan remaja sekarang juga enggak jauh beda. Makanya tatkala buku itu terbit dengan wajah cakep Nico bakal lebih menarik daripada dengan wajah asli Gie. Mungkin juga, tujuan penerbit tak lain adalah dari sisi komersial.
Tapi lepas dari semua itu...saya sendiri sih tak begitu memperdebatkan. Saya lebih cenderung...apapun yang terjadi..minimal nama Soe Hok Gie dikenal di kalangan 'anak gaul' bukan hanya 'terperangkap' di benak para aktivis, yang kategori minoritas di negeri ini. Walau pembaca tak semua bakal tekun membaca satu demi satu torehan pena Gie...tapi paling tidak pembaca bisa menangkap semangatnya. Sebagaimana film 'Veronica Guerin' yang diperankan Kate Blancett. Bisa jadi orang tertarik melihat karena Kate-nya, tetapi paling tidak..pemirsa akan mengetahui semangat Veronica sebagai jurnalis.
Saya begitu berharap...film yang bakal diluncurkan Kamis depan, memang benar-benar mencerminkan perjuangan Gie. Bukan hanya menonjolkan sisi percintaannya saja. Karena film merupakan media penyampai pesan yang ampuh.
Saya juga sepakat, walau suatu saat yang tenar jadi Nico karena filmnya....kupikir Gie akan senantiasa tersenyum jikalau generasi kini bisa mengerti esensi perjuangannya. Karena Gie bukanlah orang yang pengin terkenal dan tampil di muka untuk dipajang.
"Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth." (Gie)
Posted at 10:59 am by Tean
Permalink
Jun 30, 2005
Penganugerahan cerpen pilihan KOMPAS
Jam 6 sore, Pak JA Noertjahyo wartawan senior Kompas di Malang nelpon. Katanya beliau datang di BBJ, ada acara penganugerahan cerpen terbaik. Ada Mbak Ratna Indraswari Ibrahin di sana. Wah, kedua'sahabat' itu datang ke Jakarta. Beliau-beliau ini tempat jujugan saya kalau lagi di Malang.
Tanpa memikirkan pekerjaan yang numpuk (hehehehe) aku langsung cabut ke BBJ. Baru nyampe di front office, ada 'sedikit' masalah. "Maaf, Mbak...kalau bukan undangan nggak dapat souvenir" kata mbak-mbak cantik penjaga buku tamu. Aku sih enggak apa-apa..datang enggak ditendang aja udah mujur hehehe....udah bisa masuk juga untung. Tetapi melihat souvenirnya...buku kumpulan cerpen "JL. ASMARADANA' kok ya ngiler juga. Tapi apa boleh buat...
Tetapi begitu menulis asal institusi...agaknya Pak Noer sudah merekomendasikan diriku. Akhirnya jadi dapat souvenir...deh hehhe..thanks Pak
Begitu masuk...aku rada terperanjat juga. waduh salah kostum nih. yang datang di sana...pakai batik dan pada pake konde..sementara aku datang dengan pakaian 'kebesaranku' kaos oblong dan celana jeans. Hemmmm
Di sana aku bertemu dengan banyak orang yang hanya kukenal namanya lewat tulisan. NH Dini, Titik Puspa, Danarto, taufik Ismail, Radar Panca Dahana dll. Dan 'kebodohanku' muncul kala ada ibu yang super rapi mendekatiku.
"Waduh..adik masih muda suka juga cerpen,"...hahaha muda! (tapi kalau dilihat peserta yang datang, aku juga paling imut...atau paling engak tahu diri ya ??)
"Ibu dari Kompas ?"
"Emmm..saya undangan kok," kata ibu itu dengan arif dan penuh pengertian. Lalu kami ngobrol sembari makan siomay yang disediakan. hehehe...ternyata ibu itu Ibu Mien Uno, . Untuk pas nanya "Adik wartwan ?" aku jawab bukan.
Kalo wartwan kok kuper! Ini akibatnya kalo hidup tapi enggak punya tipi (habis, banyak prosedur di kos kalau punya tipi...). Jadi jangan salahkan daku kala presiden Indonesia siapa enggak tahu (hehehehe...trus apa gunanya dapat lengganan KOMPAS gratis ???)
Akhirnya acara berlangsung seru. Satu per satu cerpenis dipanggil. mereka berjajar menerima penghargaan. Dalam hati...huhuhu kapan ya aku bisa berdiri di depan sana...
Satu kalimat Mbak Ratna (yang dapat penghargaan kesetiaan berkarya) : Kita hidup di dunia autis...dunia yang tak peduli...melalui cerpen saya coba peduli....
Ini foto 'Babe' (sebutan akrab kami untuk Pak Jakoeb)saat pidato pembukaan:
Posted at 06:14 pm by Tean
Permalink
Matahari membiaskan senja di barat sana. Dengan terkantuk-kantuk karena keenakan (sungguh beda bila dibanding naik Kopaja atau Mayasari Bhakti), mobil mewah yang kutumpangi memasuki gang sempit dengan rumah yang padat. "Yak...kita sampai gang rumah kita," kata ibu narasumberku. Ya..sepulang dari diklat seharian, aku dapat tumpangan gratis ke Jakarta dari salah satu peserta yang juga jadi nara sumberku.
Dalam hati aku bertanya, mobil mewah gini..masak rumahnya petak-petak seperti yang kulalui. Pertanyaanku segera terjawab manakala mobil itu berhenti di jalan. Orang-orang yang duduk, anak-anak, tua muda pada berdiri lalu melihat mobil itu. Aku tak tahu perasaan mereka..tapi dari ekspresi yang tanpa senyum layaknya ketemu tetangga, bisa kupastikan walau berdekatan, si ibu itu pasti tak mengenal tetangganya.
Aku dipersilakan masuk, segelas juice markisa menyambutku. Dari pintu aku masih melihat tatapan anak-anak dan orang-orang di depan rumah. Seperti takjub...seperti sinis..seperti entahlah...
Rumah itu berdiri megah di antara rumah-rumah petak nan padat di kanan kirinya. Sangat mewah menurut penglihatanku. Pas aku numpang sholat, aku sholat di kamar tidurnya yang mirip kamar tidur VIP hotel Santika di Malang. Hemmm..seandainya kamar kosku seperti ini, pastilah aku tak bisa tidur hehehehe.
Rumah sebesar itu hanya ditinggali berempat, ibu dan suaminya, kakak ipar dan seorang pembantu. Sebesar itu ?? Sementara tetangganya pastilah rumah kecil dengan penghuninya sedemikian banyak.
Ibu itu punya 2 anak yang dari SMA sudah disekolahkan di Australia. Apakah SMA di Indonesia tak ada yang bagus ? "Anak saya kan pinter..sayang kalau cuman lulusan dalam negeri," Ada rasa bangga...ternyata semangat bangsa kita menuntut ilmu sedemikian tingginya...bak pepatah tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. tetapi ada juga perasaan miris...apakah lulusan dalam negeri diragukan sehingga pendidikan dalam negeri 'begitu sayang' untuk orang pinter ?? Sementara beberapa langkah dari tempatku ngobrol, seorang anak dengan takjub menatap 'menara emas' yang namanya SD impres...
Sambil nunggu waktu pulang, aku duduk di hadapan televisi yang besarnya seperti hometeatre. Tayangannya liputan 6 SCTV tentang sampah dan pemulung. Betapa kontrasnya dengan tempat yang kusinggahi kali ini. Aku menggigit bibir...
Sesampai di kamar kosku yang ukurannya 2,7 x 3 m, kurebahkan badanku di kasur tipis. Menatap nanar tumpukan buku-buku di rak yang bersap 5 tapi masih juga overload... barusan aku berada di 'rumah mimpi'...now I come to reality....
Posted at 03:58 pm by Tean
Permalink
|
|
 |
|
 |
 |
 |
Tean
27th
Perempuan
Mencoba menjadi journalist
Suka melihat matahari terbit
Suka baca Kahlil Gibran dan Seno Gumira
Suka denger Richard Marx, Bryan Adam
Suka film-nya Shah Rukh Khan
Single
|
 |
|