Entry: PAPUA....PAPUA.... Dec 9, 2005



Hallo kawan-kawan yang tak kasad mata tapi aku yakin ada....

Lama sekali aku tak berkunjung ke persinggahan ini. Begitulah kalau penyakit kambuhannya kumat. Tidak kreatip, tidak peka lingkungan dan tidak ingin melakukan apa-apa. Bahkan tidurpun tak ingin. Udah deh...pokonya seperti bunga krisan kering yang udah jelek...keinjek-injek..lalatpun males melirik

Sampai tapi malam...sayup-sayup aku dengar tentang 55 warga Papua yang meninggal karena kelaparan. Tiba-tiba aku terbangun...lalu teringat kenangan Juli lalu.

Waktu itu aku dapat tugas ke Biak. Karena pesawat Hercules ada yang jatuh, jadi perjalanan yang hanya 4 hari jadi 9 hari di Papua.

Aku, beserta rombongan dari Jakarta lainnya, disambut di hotel termegah di Biak. Para pejabat menyambut kami dengan teramat meriah (saya berterima kasih). Namun, di tengah semaraknya pesta...aku merasa sepi. Acara yang dihadiri banyak petani dari penjuru negeri, banyak pejabat tinggi, bahkan menteri pundatang..tak dimanfaatkan untuk membahas hal-hal yang bermanfaat. Selain pesta-pesta dan ceremonial...

Bahkan aku sempat nelangsa...suatu malam, petani anggrek ngumpul di hotel untuk jamuan makan malam. sampai jam 9 malam pak menteri tidak datang-datang, sementara makan malam harus menunggu menteri. Waktu perut sudah tak bisa bunyi lagi, menteri datang dari mancing...lalu pergi lagi, katanya lelah dan butuh istirahat.

Aduh....berapa sering sih pejabat datang ke Papua. Kenapa moment itu tak digunakan untuk membahas kemajuan petani, atau setidaknya menampung uneg-uneg warga yang sudah seabreg....

Suatu siang, di kala ada jamuan makan siang. Aku sudah sedih sekali. Aku memilih makan di salah satu warung pinggiran (yang ternyata masakan Surabaya. Aduh...jauh-jauh ke Irian kok ketemunya masakan Surabaya plus gorengan Klaten !).

Entah karena saking semangatnya ketemu dengan 'tentangga', ibu itu memberi porsi yang luar biasa. Makanya, walau sudah keringetan..tetap saja nasi itu tak habis. Lalu, piring nasi itu aku kasih ke ibu tukang cuci piring. Sisa nasi itu tidak dibuang, melainkan dirapikan. dengan bahagia..ibu itu memberikannya ke cuplis cili...yang ternyata anaknya. Dengan lahap, bocah legam itu menyendok nasi.

Kupalingkan wajah..dan aku menangis !!! Jadiii...di kala aku susah payah menjejalkan nasi ke perutku yang kepenuhan, sepasang mata mengamatiku dengan menahan lapar.

Dan tak jaub dari tempat itu,......banyak nasi dan makanan enak menggunung untuk perut yang sudah gendut.

Ketika aku mendengar ada 55 orang meninggal karena kelaparan...tak seharusnya aku heran.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments