|
Suatu malam, saat aku masih berkutat dengan naskah-naskah, HPku berteriak. "Waduh, rasanya aku ga bisa tidur...besok...besok aku harus mengubah status" ada suara panik di seberang sana. Dadaku berdetak tak wajar, ketambahan rasa perih yang tak terdefinisi. "Kenapa ? Bukankah itu membahagiakan ?" jawabku sok bijak. Tapi sumpah...itu tidak tulus. Semenjak telepon berhenti, otakkupun berhenti tak bisa menulis lagi. seperti halnya dia (mungkin), aku tak bisa tidur sampe pagi. Dia tunangan... Esok harinya, pikiranku serasa tak bersarang di tubuh. Kuamati jarum jam, kuperkirakan juga peristiwa jauh di seberang sana...kini kamu sudah bangun...jam segini kamu pasti mandi...jam segini kamu pasti sudah di hadapan sanak saudara...jam segini...pasti kau sudah sematkan cincin pertunangan...seharusnya aku yang memakainya...kenapa bukan aku...kenapa aku harus ah ingin menangis...sudah menangis..SIALAN !!!!! Di hadapanku kamu menunduk. Mengabarkan tentang pernikahanmu. "Huahahaha..akhirnya, sampai juga perjalananmu," tawaku. Tapi sungguh, aku mau pingsan rasanya. Itulah jawaban-Nya..suka atau tidak suka, dia akan menjadi milik orang lain. Seperti fajar dinikahi langit pagi. Aku hanya boleh memandang kemegahannya, tanpa bisa meraih..apalagi memiliki. Tak apalah....memang itu seharusnya. Dengan dagu tercuat, sok gagah..aku datang ke pernikahannya dengan dandanan yang sistematis. Kusadari aku memang bisa tampil beda (untuk tidak mengatakn lebih cantik hehehe). Ayah ibunya sampai tak menyangka..itu aku. Kini, tahun berselang...akupun punya kisah sendiri. Aku yang menjadi dirinya. Kukabarkan berita pernikahan. Yang menikah adalah diriku. Dengan kepala menunduk, aku berujar lirih " Insyaallah tanggal 5 maret, kamu datang ya..." Aku tak berani menatap matanya. Mata tulus seorang lelaki, sederhana, yang telah lama memproklamirkan diri sebagai sahabatku, yang selalu ada saat aku butuh, yang selalu menemaniku kala aku jatuh, yang selalu memendam rasa tanpa bisa berkata, bahwa cinta tak harus diucap dengan kata. tapi ternyata aku tak peka. Ah....semoga aku tidak GR, kalau ada yang patah hati dengan kabar ini. Maafkan aku... Berita pernikahan...ada kebahagiaan, ada harapan, ada dheg dhegan, ada keindahan, ada...sesuatu yang tak terlukiskan. Wangi kembang melati, membuai jiwa-jiwa yang mengikat janji..kuharap mampu juga menghibur yang patah hati. Jika kemarin aku yang patah hati, kini kau yang menjalani. Entah..kenapa mesti ada seperti ini... Percayalah, yang kau sayangi takkan pernah benar-benar pergi. Dia selalu ada di sini....(kata Sirius Black sambil meletakkan tangannya di dada Harry Potter, tepat di ulu hati - adegan paling romantis dalam Film Harry Potter and The Prisioner of Azkaban)
|
| Leave a Comment: |