|
Menjelang tengah malam, di salah satu Kepulauan Seribu... "Frank, kamu sudah lama di Indonesia. Berurusan segala tetek bengek konservasi...pernah enggak kamu merasa bosan, jenuh atau malah pustus asa ?" tanyaku pada Frank Momberg, salah satu direktur NGO. Dia diam, lantas melihatku. Mungkin enggak ngira aku bakal nanyain gitu. "Terus terang aja pernah. Tapi yah...sekejap. Tapi itu cepat hilang kalau sudah jalan-jalan. Tapi sekarang sudah susah menemukan tempat jalan-jalan yang asyik," katanya. Tentu saja tempat jalan-jalan bagi dia bukanlah mall atau tempat artifisial lainnya. Melihat burung di pulau itu adalah tujuanku meninggalkan kantor dan deadline (heheheh). Untuk pertama kalinya, setelah mendengar birdwatching lama, dan dulu aku sama sekali tidak tertarik (abis, birwatchingnya di depan rektorat..ketemunya cuman burung gereja doang. Kayak gitu ngapain pake binokuler segala ?!). Tadi siang, aku melihat sesuatu yang baru. Burung laut, aneka macam (tentu saja aku enggak bisa nyebutin ehhehe). Burung pun ada yang jahat, kerjaannya ngerampok makanan dari burung yang kerja nyari makan seharian. Namanya kalo enggak salah burung angin, abis terbangnya males bgt, cuman ngikutin angin doang. terus ada burung yang gembul, kerjaannya makan. Warnanya item, ahlinya ngasih tau kalo namanya pecuk. Ada lagi burung iseng, namanya rada centil : Trinil. Dia suka menjukat njungkitkan pantat... Tak seberapa jauh dari pulau itu, ada salah seorang penduduk yang diberi hadiah kalpataru. Tentu saja, 'obyek' macam ini jadi sasaran empuk rekan2 wartawan. Tiba2 bapak yang sehari-harinya ngobrol sama bakau, tiba-tiba dicecar pertanyaan dari wartawan. waduh, kerepotan sekali menjawabnya. Yang biasanya hanya diterangi petir, tiba2 slap...slep...kamera menyambar. Pertanyaan tentu saja seputar : kenapa bapak menjaga habitat burung (nah..habitat ..makanan apaan ?!), apasaja permasalah lingkungan yang dihadapi, bagaimana menurut bapak konservasi yang bagus (waduh...tiba2 jadi pembuat kebijakan deh)...apa peran pemerintah dalam hal ini, pasti jauh dari keinginan (wuahhhh..pertanyaan nyinyir seputar peemrintah berlanjut...) Suasana alami yang sempat kurasakan, mendadak jadi ajang kata-kata muluk yang membuat peraih kalapataru, yang sama sekali tak tahu apa itu kalapataru, menjadi mesin penjawab. Tiba-tiba, tanpa sadar..aku telah merusak 'kelestarian' yang ada di sana. kelestarian sebuah itikad untuk melakukan sesuatu yang tanpa pamrih, tanpa keinginan mendapatkan penghargaan, tanpa ingin publikasi.... "saya sudah lama tinggal di pulau itu karena menjadi tenaga honorer di kehutanan, tenaga honorer yang puluhan tahun...mungkin sampai pensiun tetap honorer. Karena setiap hari di sana, pulau itu seoralah jadi tempat tinggal saya, jadi kalau burung-burung atau tanaman mati...ya seperti hewan piaraan di rumah mati..." semoga akan tetap seperti itu, kukira..rasa memiliki yang enggak dibuat2 itulah yang akan mengabadikan KONSERVASI |
| Leave a Comment: |