Entry: DESAKU YANG KUCINTAI.... Jun 1, 2006



Hari Senin pagi, 29 Mei

Jati, adikku yang berusia 11 tahun sibuk mencari topi dan dasi merah putihnya. Setelah bercermin di depan almari yang sudah somplak, dia bergegas menaiki sepeda mininya. Membawa dua ransel yang di sandang di dada dan punggungnya. Ia akan ke sekolah walau sudah dilarang oleh ibukku. "Gak boleh ga masuk, ini kan udah mau tes," katanya semangat. Namun, sesampainya di depan sekolah, dia hanya melongo. "Lho Mbak, kok temanku enggak ada...lho kok sekolahku sudah enggak ada" katanya memelas. Dia menyetandarkan sepedanya, melompati reruntuhan bangunan sekolahnya yang sudah menjadi puing akibat gempa yang menerpa di Klaten, Sabtu lalu.

Dengan enggan, sesekali masih menoleh ke gedung sekolahnya, ia mengayuh sepeda kuningnya pulang. Masih dengan dua ransel yang disandang di depan dan belakang. Walau kerepotan, ia tak mau tasnya aku bawakan. Ternyata, tas depan berisi buku tulis dan alat-alat tulis. Ransel belakang berisi satu stel baju, pakaian dalam, satu kotak biskuit, air minum dan payung. Ransel ini hampir tak pernah lepas dari tubuh, bahkan tidur sekalipun. "karena gempa datang lagi..." katanya.

Begitulah, ini hanya potret keluargaku yang alhamdulilah tidak ada yang cedera. walau rumah orang tuaku luluh lantah, seperti hampir 70% rumah di desaku. Jiwo Kulon, kec Wedi , kab Klaten. namun, trauma yang diderita menjadi siksaan yang belum berhenti hingga hari ini. Warga masih tidur di luar, tanpa atap. bantuan sangat minim, karena tidak ada media yang datang untuk meliput di desa kami. bantuan banyak terkonsentrasi ke Yogyakarta, atau daerah-daerah yang gampang dilihat.

Di tengah penderitaan itu, masih ada juga 'hewan-hewan' brengsek yang memanfaatkan kesempatan. Suatu malam, tiba2 ada yang teriak kalau air sudah nyampe di kota kecamatan. begitu warga panik, rumah yang sudah hancur lebur itu dijarah. Di sepanjang jalan, banyak sekali yang menyodorkan kotak bantuan, yang enggak jelas untuk siapa. Bahkan ada yang menimbun barang bantuan untuk dirinya sendiri, sementara yang lain kelaparan.

Bersama 5 orang temanku SMA, aku coba mendata pusat2 warga terkumpul. Di tetangga desaku, Bicak, Gumul, brangkal, Pesu, karbolo...semua di kecamatan wedi, yang semua, hingga hari ini masih tidur tanpa atap. Kami coba kontak ke posko-posko di jogyakarta. Namun begitu didrop, tidak pernah sampai ke lokasi. Sudah dijarah di tengah jalan.

kami coba membawa dengan sepeda motor, karena desa yang kami datangi memang enggak bisa dimasuki mobil. Jogja - klaten bolak balik entah sudah berapa kali. Namun, semua itu seperti menggarami laut. Hanya 3 sepeda motor, tak seberapa barang yang bisa kami bawa. Sementara yang lapar banyak sekali. malam ke3, aku sudah pada tahap menyerah. hanya bisa menangis di tempat.

Aku harus balik ke jakarta, karena enggak mungkin aku meninggalkan kantor lebih lama lagi. Majalah bisa tidak terbit, karena satu teman ibunya meninggal, satu teman lagi sudah sakit. "Masak kamu tega meninggalkan desa dalam kondisi kayak gini," itu kata sahabatku. Aku nyaris saja tak berangkat. tetapi kembali ke Jakarta kukira ada manfaatnya. Aku bisa mengontak beberapa posko media di Jakarta. wa;lau aku tak bisa menjajikan banyak.

Tadi pagi, sahabatku tadi menelpon, akhirnya menyerah juga. Ia balik ke Cilacap ke tempat kerjanya. katanya, sudah tidak kuat lagi melihat usaha kami yang sia-sia. Tinggal adikku yang sebenarnya dokter hewan, tetapi harus merawat manusia yang terluka.

sesampai di jakarta, begitu terkejutnya aku. ternyata bantuan banyak sekali, datang dari mana-mana. semalam di Metro tv, menteri kesehatan 'berantem' dengan PDIP masalah sistribusi. Tak terasa air mataku meleleh, kenapa harus seperti itu ? (aku menulis ini mataku meras panas)

Perlu diketahui, yang terjadi di lapangan , banyak orang yang memanfaatkan kesempatan.

- Bendera parta berkibar di daerah-daerah yang strategis. bendera LSM tak kalah megahnya. Namun di daerah yang tak 'potensi' terlewat begitu saja. Ketika aku datang ke lokasi tetangga desa, warga menanyakan, "Mbak dari partai apa ?" Bingung juga aku njawabnya, aku saja golput. Aku jawab saja "dari manusia yang jyga menghuni bumi"

- negeri yang lapar, negeri yang buas. Masyarakat yang pengangguran, para pak ogah cepek yang biasanya menjaga perempatan, kini 'menjaga' posko bantuan.

Tuhan, kumohon..sadarkan mereka yang belum sadar. Sak begja-begjane wong lali, isih begja wong eling lan waspada.

 

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments